Sulteng bangun penangkaran benih jagung

Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah akan membangun penangkaran benih jagung untuk memenuhi kebutuhan petani. Ini dalam rangka mendukung pencapaian swasembada pangan.
"Hingga kini, kita baru swasembada beras, kita berupaya keras agar segera mencapai swasembada jagung," kata Kepala Dinas Pertanian Sulteng Trie Iriany Lamakampali di Palu.
Ia mengatakan, Sulteng memiliki potensi lahan pengembangan komoditi jagung yang cukup luas, tersebar di seluruh kabupaten dan kota. Begitu pula halnya potensi budidaya kedelai. "Lahan kita sangat luas, dan jika potensi tersebut dapat dimanfaatkan dengan baik, niscaya Sulteng bisa menjadi sentra produksi jagung dan kedelai," katanya.
Untuk memenuhi kebutuhan benih jagung bagi petani di Sulteng, Dinas Pertanian akan membangun penangkaran benih jagung. Diharapkan ke depan, petani tidak lagi kesulitan mendapatkan benih, lantaran harus mendatangkan dari luar daerah.
Selama ini, kata Trie, jagung produksi petani Sulteng banyak dibawa keluar daerah seperti Gorontalo dan Manado.
Soal pasar jagung, menurut Trie, tidak ada kendala karena selain pasar lokal, petani khususnya yang ada di Kabupaten Tojo Unauna dan Buol biasanya memasarkan ke Gorontalo.
Dia juga berharap Bulog Sulteng segera merealisasi pembelian jagung petani sesuai standar harga yang telah ditetapkan pemerintah. "Kalau Bulog membeli jagung seperti halnya selama ini dilakukan terhadap komoditi pokok (beras), niscaya petani akan semakin bergairah mengembangkan komoditi jagung secara besar-berasan," kata Trie.
Perum Bulog mendapat penugasan dari pemerintah pusat untuk menangani 11 komoditi pangan, termasuk diantaranya jagung, kedelai, cabai dan bawang.
Data Dinas Pertanian Sulteng menyebutkan, produksi jagung petani Sulteng pada 2014 mencapai 170.202 ton tersebar di 13 kabupaten dan kota. Kabupaten Sigi merupakan daerah terbesar produksi jagung mencapai 48.372 ton/tahun dan Kabupaten Tojo Una-Una 44.884 ton.
Harga jagung di tingkat petani saat ini berkisar Rp 2.000 ton, dan di tingkat pedagang pengumpul di Kota Palu mencapai Rp5.000 per kg.
sumber : kontan.co.id
Share: