Sudarsono, Berawal Dari 4 Pasang Ikan Hias

Ketekunan umumnya membuahkan hasil. Meski hanya sekadar hobi, jika terus ditekuni dan bekerja keras,tentu akan menghasilkan rupiah. Begitulah yang dirasakan Sudarsono yang menekuni hobi memelihara ikan hias.
Pria kelahiran Medan,21 Desember 1974 ini awalnya hanya memiliki empat pasang ikan hias,yakni ikan cupang dan ikan moli.Diapun saat itu hanya mempunyai satu kolam. Namun kini,bungsu dari delapan bersaudara sudah memiliki 20 kolam ikan hias dan tiga kolam ikan konsumsi. Dia juga sudah memiliki kios sendiri untuk menjual ikanikannya itu dengan keuntungan bersih setiap bulan di atas Rp3 juta.
Usaha yang dilakoni pria yang akrab disapa Sudar ini tidaklah langsung berhasil. Setidaknya, ada proses jatuh bangun sebelum usaha itu tegak berdiri.Namun, berkat tekad dan kerja keras, dia mampu membangun sebuah kerajaan kecil di bisnis ikan. Ketika memulai usaha ini, Sudar termotivasi melihat peluang besar di balik pembudidayaan ikan, terutama ikan hias.
Bersama teman-teman penghobi lainnya,Sudar kemudian membentuk kelompok tani berbasis perikanan yang mereka beri nama Ikatan Pembudidaya Ikan Air Tawar Sumatera Utara (IPIATSU) pada Desember 2009.
IPIATSU tidak membedakan antara ikan hias atau ikan konsumsi, yang penting pembudidaya ikan air tawar. “Kami awalnya dari sekadar hobi saja.Bersama kawan-kawan membudidaya ikan,sambil bekerja lalu mendirikan kelompok ini,” kisahnya.
Menurut dia,bisnis ikan hias di Medan sangat menjanjikan untuk meningkatkan sektor ekonomi kerakyatan.Terbukti, IPIATSU yang awalnya hanya terdiri dari beberapa anggota kini sudah berkembang menjadi 30 orang.Dan itu semua berkat sosialisasi budidaya ikan murah yang mereka lakukan,yakni budidaya dengan kolam terpal.“Dengan kolam terpal ini,kita tidak perlu mengeluarkan biaya mahal dengan membuat kolam dan membetonnya, ”ungkapnya.
Dengan kolam terpal pula, budidaya ikan hias jauh lebih mudah dan murah.Biaya yang dibutuhkan hanya sekira Rp300.000,namun keuntungan yang didapatkan bisa mencapai ratusan ribu bahkan jutaan rupiah. Kolam terpal menjadi sarana promosi yang manjur bagi IPIATSU.Karana dengan ini,mereka bisa mengajak masyarakat untuk ikut membudidayakan ikan sehingga program agar masyarakat gemar makan ikan bisa tercapai.
Di sisi lain,Sudar menilai bahwa perhatian pemerintah terhadap pembudidaya ikan masih rendah.Padahal saat krisis moneter,sektor pertama yang mendongkrak perekonomian Indonesia adalah ikan hias dan bebek. Namun,terlepas dari semua itu,sebagai kelompok mandiri,IPIATSU tetap merangkul masyarakat dengan berbagai sosialisasi yang mereka lakukan.
Di antaranya,pengenalan kolam terpal untuk cara mudah membudidaya ikan,serta gencar menyampaikan gemar makan ikan. Sudar juga memiliki impian agar IPIATSU akan menjadi besar nantinya. Untuk mencapai itu,dia sudah punya ide membentuk beberapa unit usaha di IPIATSU.”Selain kios ikan, saya maunya IPIATSU ini kelak akan membuat industri kerupuk dari ikan.Seperti kerupuk ikan lele,ikan patin, gurame dan nila,” bebernya.

sumber : budidaya-ikan.com
Share: