Singapura hentikan ekspor kepiting, petani tambak resah

Sejak sebulan terakhir, Pemerintah Singapura menghentikan sementara impor kepiting soka (lunak) dari Indonesia. Kondisi ini membuat petani keramba kepiting resah. Mereka kesulitan memasarkan hasil budidayanya.

Zulfan , petani kepiting di desa Cot Lamkuweuh, Kecamatan Meuraxa, Kota Banda Aceh mengatakan, paska dihentikannya impor dari Singapura, dia terpaksa harus menjual kepiting lunak grade dua ke restoran-restoran lokal di Aceh. Harganya pun miring.
"Biasanya kami mengirim kepiting ini melalui Pangkalan Brandan, Medan Sumatera Utara, tetapi sejak sebulan terakhir sudah ditutup, alasannya Singapura menghentikan sementara pembelian kepiting dari Indonesia, kata Zulfan, di tambaknya.
Dari penjelasan Zulfan, pihak importir Singapura menghentikan sementara karena alasan mendapatkan kepiting lunak bervirus setelah diolah. Karena itu saat ini Zulfan hanya menjual kepiting untk pasar lokal.
Dia terpaksa menerima kenyataan, harga jual lokal jauh lebih murah dari harga biasanya. Termasuk saat menjual kepiting jenis grade dua di restoran lokal harga hanya berkisar Rp 70.000 per kilogram, biasanya bisa menjual mencapai Rp 100.000 per kilogram.
"Biasanya eksportir di Medan itu membeli yang grade satu itu mencapai Rp 145.000 per kilogram untuk kepiting hidup tanpa pembekuan, namun sekarang harus menjual hanya Rp 128.000 yang diterima oleh eksportir lokal, jelasnya.
Hasil dari budidaya kepiting soka dengan keramba di Banda Aceh bisa mencapai 1 ton, diekspor setiap bulannya. Selain Singapura, pasar ekspor kepiting dari Aceh juga menyasar Thailand dan Malaysia melalui Pangkalan Susu dan Pangkalan Brandan, Medan Sumatera Utara.
Zulfan melihat, seharusnya kasus seperti ini tidak perlu terjadi bila Pemerintah Aceh mau membantu membuka kran ekspor kepiting lunak dari Aceh. Sehingga petani kepiting lunak di Banda Aceh tidak ketergantungan dengan Medan, Sumatera Utara.
"Jadi ke depan kami sangat berharap Pemerintah Aceh harus sudah memikirkan bisa mengekspor langsung kepiting lunak ini dari Aceh, karena sekarang kita masih tergantung dari Medan."
sumber : merdeka.com
Share: