Rumput laut mendominasi perikanan budidaya

Produk budidaya rumput laut masih mendominasi seluruh produksi budidaya perikanan pada triwulan I-2015 (Januari-Maret). Dari produksi perikanan budidaya 3,58 juta ton, sekitar 60% dikuasai produksi rumput laut, kemudian disusul udang, lele, patin dan nila. Slamet Soebjakto, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bilang, produksi budidaya rumput laut pada triwulan pertama tahun ini baru mencapai sekitar 16% hingga 20% dari target yang ditetapkan yakni 17,9 juta ton.


Ia mengatakan, pada triwulan pertama tahun ini, produksi budidaya perikanan memang mengalami kendala cuaca seperti hujan yang sangat tinggi sehingga menganggu produksi perikanan.
Kendati demikian, Slamet masih optimis, DJPB masih dapat mengejar target  produksi tahun ini dengan melakukan sejumlah langkah strategis. Ia mengataakan, akan berkonsentrasi melakukan pengembangan budidaya di laut. 
Saat ini, tengah dibahas cara DJPB mendapatkan wilayah atau zona khusus tempat budidaya di laut yang tidak tumpang tindih dengan kegiatan lain seperti pariwisata dan pertambangan. "Kita akan tetap menjadikan laut sebagai yang utama, kembali kemaritiman. Kita akan menggali potensi-potensi laut," ujarnya.
Slamet bilang, potensi rumput laut masih sangat besar untuk dikembangkan. Karena itu, KKP masih mengandalkan produksi rumput laut, khusus di daerah timur Indonesia. Selain mudah dibudidayakan, rumput laut juga tidak perlu obat-obatan dan membuka peluang tenaga kerja yang cukup besar. 
Di samping itu, biaya produksi rumput laut lebih murah. KKP juga mendorong agar industri pengolahan rumput laut dibangun di sentra-sentra rumput laut untuk menekan biaya transportasi. Selain itu, DJPB juga akan mengembangkan budidaya laut lainnya seperti ikan kakap dan kakap putih. Dan mengembangkan budidaya air tawar seperti nila dan lele. 
Dirjen Budidaya tidak membantah bila saat ini tingkat kesejahteraan pembudidaya tidak sesuai harapan. Kendati begitu, ia juga mengatakan, bahwa banyak juga pembudidaya yang cukup sejahtera sehingga bisa memiliki properti dan naik haji. 
Ke depan, Slamet tengah mengusahakan transfer teknologi dan informasi dengan negara-negara lain, khususnya anggota Network of Aquaculture Centres in Asia Pacific (NACA). Dalam forum ini, KKP akan mendapatkan informasi bagaimana negara-negara lain bisa mengatasi masalah di perikanan budidaya mereka.
Salah satu masalah yang kerap dikeluhkan adalah masalah pakan mahal dan harga ikan yang rendah. Itulah sebabnya, KKP tengah berusaha mengenjot pembangunan pakan mandiri lewat kerjasama antara pembudidaya mendirikan pabrik pakan skala kecil.  

sumber : kontan.co.id
Share: