Ribuan Ikan Nila Mati di Sungai Martapura

Ribuan Ikan Mas dan Nila di Desa Mali-Mali dan Sungai Arpat kecamatan Karang Intan Kabupaten Banjar mati mendadak. Akibatnya sepanjang sungai dua desa tersebut terlihat memutih karena banyaknya ikan yang mati mengapung di sungai.
Dari pantauan Radar Banjarmasin di sepanjang sungai desa tersebut, ratusan keramba juga terlihat memutih, serta hanya sebagian ikan yang masih dapat bertahan. Juga terlihat pemilik keramba membersihkan ikan-ikan yang sudah mati dan mengangkatnya ke darat, serta juga banyak terlihat yang langsung membuangnya ke sungai karena jumlahnya yang sangat banyak.
Salah satu pemilik keramba warga desa Mali-Mali Masri mengungkapkan, matinya ikan dikerambanya.
“Jumlah ikan yang ada dalam dua keramba milik saya ada 30 ribu ikan dan semuanya sudah berumur tiga bulan dan siap panen, saya juga tidak tahu kenapa ikan mati mendadak dalam dua hari ini,” ungkapnya kepada Radar Banjarmasin saat membersihkan kerambanya dari ikan yang mati.
Untuk total kerugian, lanjutnya sedikitnya Rp40 juta untuk dua keramba tersebut. Kerugian tersebut dihitung hanya dengan harga jual ikan nila Rp20 ribu per kilo. Sedangkan dalam satu keramba biasanya menghasilkan dua ton ikan.
Masalah ini menjadi berat, karena untuk pakan ikan tersebut diutang dari penjual pakan dengan harapan dapat membayarnya saat sudah panen nantinya. Namun belum lagi sempat panen, hampir semua ikan sudah mati mendadak.
“Saya sudah mengambil pakan ikan tersebut sebanyak 50 sak dengan harga per sak Rp400 ribu karena karena mengutang,” katanya. Masri juga mengharapkan agar matinya ikan secara mendadak ini bisa diperiksa oleh dinas terkait, apakah memang karena air ataukah karena ada racun di dalam air.
“Karena ikan yang mati ini cepat sekali membusuk tidak seperti matinya ikan dalam keadaan wajar.” Hal tersebut juga dialami ratusan warga desa Mali-Mali dan Sungai Arpat, hampir semua ikan yang ada dalam keramba apung di pinggir sungai mati mendadak.
Dari keterangan beberapa orang warga desa tersebut, setiap pemilik keramba tidak hanya mempunyai satu, minimal dua bahkan ada yang sampai 5 keramba. Sedangkan ikan dalam satu keramba berisi nila minimal 15 ribu sampai dengan 25 ribu,
Hal serupa juga dialami pemilik keramba lainnya Jani Hadi, menurutnya ikan yang ada dalam tiga keramba miliknya mati hanya tersisa sedikit saja lagi, penyebab matinya ikan juga tidak diketahui. Kematian ikan juga mendadak berlangsung atau bertepatan dengan hari raya Idul Adha.
“Dalam satu keramba saya mengisinya dengan 15 ribu bibit nila, dan umurnya sudah sekitar satu bulan,” katanya. Untuk penyebab matinya ikan-ikan tersebut, sebagian besar pemilik keramba menduga karena air sungai yang surut dan tidak mengalir, sehingga ikan kekurangan oksigen.
Air sungai yang melintas di dua desa tersebut bersumber dari waduk riam kanan, mungkin karena debit waduk tersebut menyusut sehingga air yang mengalir juga sedikit. Kepala desa Mali-Mali Jamhur mengungkapkan, untuk desanya warga yang memiliki tambak jumlahnya lebih seratus warga dan masing-masing warga memiliki lebih dari satu keramba.
“Untuk saat ini saya tidak tahu berapa jumlah kerugian yang dialami warga, karena ada yang baru bibit serta ada yang siap panen, sehingga perhitungannya lain-lain,” jawabnya.
Oleh warga, ikan mati tersebut langsung dibersihkan warga ada yang langsung di wadi (asinkan) dengan harapan nantinya bisa dijual kalau ada yang membeli. Namun itu hanya sebagian kecil saja sisanya ikan-ikan tersebut dibuang di sungai.

sumber : budidaya-ikan.com
Share: