Resto Apung Kedisan, Berawal Dari Hobi Makan Ikan

Sensasi kelezatan makanan tidak berhenti pada racikan bumbu. Hal yang lebih menentukan sebenarnya panorama di mana sebuah sajian disantap. Itulah kunci sukses Resto Apung Kedisan, yang mengapung di atas permukaan Danau Batur, Kintamani, Bangli, Bali.
Sajian keharuman ikan nila dan gurami bakar atau goreng merebak tak hanya dari racikan rempah khas Bali, tetapi juga dari embusan angin di tengah-tengah danau. Angin yang turun menyusur lereng Gunung Batur seolah bermuara pada piring-piring para wisatawan yang sedang menikmati santap siang. Yummy.
Seperti lengkap sajian menu makan siang ini hari: bumbu yang asin pedas ditambah cuaca sejuk dan panorama yang indah! Seperti suguhan Dewata, tiada tanding.
Resto apung ini merupakan tempat makan satu-satunya di sekitar Danau Batur yang memiliki pilihan bale (sejenis saung) yang mengapung. Ada yang lesehan atau ruangan mengapung dengan duduk di kursi.
Nelayan yang sedang bersampan menangkap ikan menambah lengkap suasana danau. Semua ikan nila atau gurami yang disajikan selalu dalam kondisi segar karena langsung diambil dari kolam penampungan.
”Kami tidak mau mengecewakan pengunjung dengan menyajikan ikan-ikan yang sudah dibekukan. Kami ini sudah identik dengan resto ikan segar. Rasanya juga beda,” kata pemilik Resto Apung Kedisan, Wayan Rena Wardana.
Wardana mengaku bersama istrinya, Nyoman Sudarmi, membuka resto ini karena memang hobi makan ikan. Lalu, keduanya prihatin dengan wisatawan yang kesulitan makan siang di sekitar Batur. Padahal, lanjutnya, ikan-ikan di Danau Batur berpotensi menjadi daya tarik kuliner khas.
Suami istri yang tengah menikmati masa pensiun ini pun memutuskan membuka restoran sekitar tahun 2005. Saat itu, mereka belum berpikir untuk membuat resto apung di tengah Danau Batur.
Soal menu dan resep makanan asli Bali, keahilan Sudarmi tak perlu diragukan di dapur. Semua bumbu, lanjut Wardana, istrinya yang membuatnya, dari menu andalan nila goreng dan bakar sampai sayur kangkung plecing. Kini restoran mereka makin berkembang dengan omzet bulanan bisa mencapai jutaan rupiah.
Pada setiap musim liburan, restoran yang mempekerjakan sekitar 15 karyawan ini kewalahan menangani pelancong. Bahkan, tak sedikit dari para pengunjung terpaksa harus kecewa karena tak sabar menunggu antrean untuk bisa makan nila masakan sang istri.
Berawal dari melihat keramba apung milik para nelayan dan tambak-tambak ayahnya, seorang teman menyarankan Wardana untuk mengembangkan usaha resto dengan membuat ruangan resto mengapung. Jembatan kayu yang juga mengapung menjadi penghubung restoran di atas tambak ke resto apung.
”Saya pikir kenapa tidak dicoba saja. Memang memerlukan investasi tidak sedikit karena membangun resto dengan tantangan bagaimana ketika air danau pasang tidak hanyut atau rusak,” ujar Wardana.
Setelah resto apung selesai dibangun sekitar 2009, pengunjung semakin berebut untuk bisa menikmati hidangan di atasnya. Sensasi berbeda memang sangat terasa ketika makanan disantap di atas resto mengapung sambil menikmati keagungan Gunung Batur dan Danau Batur.
Ketika liburan hari raya Galungan dan Kuningan, antrean pun panjang. Kekuatan 15 karyawan belum sanggup menangani puluhan orang yang ingin bersantap. Belakangan, tamu-tamu dari China dan Eropa menjadi peminat baru. Selain untuk pengunjung, resto ini juga menyediakan penginapan bagi yang ingin bermalam atau ada acara pertemuan lebih dari 10 orang.
Menu nila goreng atau bakar dihargai Rp 70.000 per kilogram. Biasanya, satu kilogramnya mendapatkan tiga ekor. Namun, kalau ingin mencicipi goreng dan bakarnya, pengunjung bisa memesan kombinasinya dalam satu kilogram.
Sambal matah, sebagaimana sensasi masakan Bali, tentu menjadi favorit pengunjung. Menu lain yang juga banyak diminati adalah nila dengan bumbu nyat-nyat. Masakan ini mirip ikan pepes, hanya saja bumbunya lebih terasa rempah-rempahnya seperti batang sereh, kunyit, lengkuas, jahe, hingga kencur.
Jika tak doyan pedas, sajian di resto ini tetap aman untuk yang sensitif cabe. Masakannya dijamin aman. Hanya saja, pengunjung yang tak kuat dengan hawa dingin harus membawa jaket atau selendang karena bisa kedinginan.
Setiap hari, resto apung ini bisa menghabiskan rata-rata lebih dari 50 kilogram nila segar. Pasokannya tentu saja berasal dari nelayan sekitar danau. Wardana bertutur, dia pernah memelihara keramba nila sendiri. Namun, ia menyadari itu mematikan potensi nelayan setempat. Karena itu, ia berharap restonya bisa berdampak positif bagi masyarakat nelayan di sekitar Danau Batur.
Jadi, kalau menyantap nila sebaiknya sampai ke danau-danaunya agar memperoleh kenikmatan yang menyeluruh: makan lezat dan panorama yang indah.

sumber " budidaya-ikan.com
Share: