Pompa Air Tanpa Bahan Bakar / Listrik Kreasi Kelompok Mina Berkah

Kepepet seringkali membawa dampak positif dan muncul kreativitas. Seperti yang dibuktikan kelompok pembudidaya ikan Minaberkah dari Desa Mlaran Krasak Kecamatan Gabang Purworejo.
Musim kemarau berakibat pada persediaan air yang terus menipis. Ini membuat pusing kelompok pembudidaya ikan. Namun, mengeluh tidaklah melahirkan solusi. Mereka menciptakan pompa tenaga air sebagai alat menyedot air dari sungai kolam budidaya.
Berkat kreativitas dan invonasi tersebut, kelompok Minaberkah mampu menghemat pengeluaran listrik dan menekan angka kematian bibit ikan hingga 80 persen. Bermodal pipa besi tua sepanjang tiga meter yang disambungkan dengan paralon untuk wadah mengalirkan air, mereka mampu memenuhi mendapatkan air untuk bibit ikan di kolam mereka.
Sistem yang bekerja dalam pompa tenaga air itu cukup sederhana. Dengan konsep pegas yang diletakkan di dalam pipa utama, aliran air secara terus menerus ke pipa. Sehingga air bisa terpompa dengan sendirinya, tanpa bahan bakar atau listrik.
Konsep ini sebenarnya sudah lebih dahulu diterapkan oleh Pondok Pesantren An Nawawi Berjan. Mereka membuat alat tersebut sebagai pengisi air untuk keperluan mandi dan mencuci para santri.
Ketua Kelompok Minaberkah Masrukin, 35, menjelaskan, untuk mengoperasikan pompa tenaga air tersebut dibutuhkan kemiringan medan minimal 25 derajat. Sehingga aliran air bisa masuk ke pipa terus-menerus. Di dalam pipa utama, ada dua buah klep dari ban bekas yang berfungsi memompa air ke atas.
“Kebetulan kolam kami tidak jauh dari pintu air yang cukup pas untuk konsep pompa tenaga air,” kata Masrukin, Rabu lalu (7/11). Alat ini memiliki prinsip kerja seperti semprotan obat nyamuk. Saat tekanan penuh klep bagian atas terbuka dan menyemburkan air, aliran air tersebut mengalir ke kolam ikan.
“Peralatan yang digunakan sebagian besar merupakan barang bekas. Penerapan konsep alat itu sangat sederhana, sehingga bisa dibikin oleh siapa saja,” imbuhnya.Masrukin menambahkan, biaya pembuatan alat ini tidak mahal. Komponen utama justru dari barang bekas. Untuk membuat juga mudah dan tidak terlalu rumit.
“Merakit satu alat ini hanya memerlukan biaya Rp 2 juta,” katanya.Kelemahan pompa tenaga air, ungkap Masrukin, pada pada pipa yang digunakan untuk mengalirkan air ke dalam tabung utama tertutup sampah. Ini yang membuat aliran air menjadi tak lancar, kecil, dan daya dorong ke atas otomatis berkurang dan macet.
“Dengan perawatan yang rutin, pemanfaatan pompa tenaga air sangat besar menekan biaya operasional. Karena hanya menggunakan arus air. Air sungai juga kaya dengan oksigen yang bagus untuk menekan angka kematian bibit ikan,” katanya.Kelompok Minaberkah Desa Mlaran Krasak menerapkan program minapadi dan berhasil melakukan panen perdana pada bulam Mei 2012.
Program minapadi di desa setempat juga mendapat dukungan Pemkab Purworejo lewat dinas kelautan, pertanian, dan peternakan (DKPP) Purworejo.  Program Minapadi merupakan program milik provinsi. Kendati begitu, petani setempat menerapkan dengan dana swadaya murni. Program minapadi diterapkan di lahan sawah milik warga.
Kelompok ini juga menimba ilmu langsung ke Muntilan Magelang. Program tersebut dilakukan di lahan sawah milik kelompok. Mereka membuat kolam sedalam 60 sentimeter pada areal persawahan. Ada dua jenis ikan yang dibudidayakan, yaitu ikan gurame dan ikan mas.
Program minapadi memang memilih jenis tanaman padi yang tahan terhadap air.Kelompok ini memilih menanam varietas padi jenis IR. Karena tahan rendaman air. Setiap 280 meter persegi, mereka membuat satu kolam.
“Pertama, diujicobakan benih ikan gurame sebanyak 330 ekor. Saat panen perdana Mei lalu, tingkat keberhasilan mencapai 90 persen. Ini sangat memuaskan,” katanya.Anggota Minaberkah, Zainal Mustofa, 22, menambahkan produktivitas tanaman padi yang ditanamnya juga tidak terganggu. Perkembangan padi justru lebih subur karena hama tanaman seperti gulma yang menggangu akar dimakan ikan.
“Kami tidak membutuhkan umpan ikan berlebihan. Pelet ikan diberikan beberapa kali untuk memacu pertumbuhan. Setelah itu, kami biarkan mencari makan sendiri secara alami,” katanya.
Kasi Budidaya dan Pengendalian Ikan DKPP Purworejo Toto Erwanto puas dengan semangat warga Mlaran Krasak yang menerapkan program minapadi di lahan kelompok. Memelihara ikan dan menanam padi jelas mampu menambah nilai ekonomi pendapatan petani.Keberhasilan program minapadi harus didukung sistem pertanian organik. K
endalanya jika banyak yang masih menerapkan pertanian non organik dan ini akan berpengaruh pada pertumbuhan ikan. “Diperlukan sosialiasi untuk mengajak petani agar mau menerapkan progam minapadi,” katanya.

sumber : budidaya-ikan.com



Share: