Penjual undur-undur dan ikan hias, kini jadi bos catering tenar

Menjadi seorang pengusaha bukan cuma bicara modal. Ada hal lain yang tak kalah penting dari urusan duit, yakni bagaimana si pengusaha bisa membuat usahanya lebih kreatif dibandingkan pesaing yang sudah lebih dulu ada. Hal itu dipegang teguh, Dymas Tunggul Panuju. Kejeliannya melihat peluang bisnis di bidang kuliner mengubah hidupnya menjadi pengusaha sukses.


"Krisis yang bagaimana pun beratnya, kondisi bisnis kuliner tetap eksis sepanjang masa. Segmen bisnis kuliner bisa dinikmati semua kalangan karena manusia membutuhkan pangan untuk hidup," katanya diplomatis soal awal mula merintis usaha kuliner.

Pengakuan itu dia tuangkan dalam buku Rhenald Kasali Wirausaha Muda Mandiri terbitan Gramedia 2012. Sebenarnya, niatan Dymas menjadi pengusaha muncul mendadak karena keluarga terhimpit masalah ekonomi. Di masa-masa sulit itu, dia tengah menempuh pendidikan Strata 1 di Universitas Brawijaya Malang, fakultas Pangan.

"Saat itu hanya ada dua pilihan, kuliah atau bekerja. Tapi saya pilih yang ketiga, memberanikan diri tetap kuliah tetapi harus bisa membiayai diri sendiri," ucapnya.

Di sela waktu luangnya di kampus, Dymas nyambi bekerja di sebuah rumah makan. Beberapa saat setelah itu, dia pindah ke perusahaan katering bekerja paruh waktu. Singkat cerita, kebetulan saat itu kampusnya mengadakan kegiatan. Sebagai steering commitee BEM di kampusnya, Dymas mendapat tugas menyediakan konsumsi dengan rasa enak tapi harga terjangkau.

Meski tugas menyediakan makan kala itu beres, ada hal lain yang mengganjal di benaknya. Dia justru melihat tugas menyediakan konsumsi kemarin sebagai berkah untuk memulai bisnis.

"Jika di Malang ada 36 perguruan tinggi, berapa besar peluang mereka memesan konsumsi ke perusahaan katering yang akan saya dirikan dan berapa keuntungan katering tersebut? Saya yakin sangat besar," beber Dymas.

Dia kemudian berpikir, jenis boga apa yang akan menjadi konsen usahanya. Pilihannya jatuh pada ayam bakar karena disukai berbagai kalangan, harga terjangkau dan tidak mudah bosan.

Untuk mempermudah pelanggan mengingat 'warung' ayam bakarnya, Dymas memberi nama Ayam Bakar Ngimbang. Nama ini bukan asal-asalan dia pilih. Menurut Dymas penamaan ini ada ceritanya.

Saat itu pemda Lamongan memberikan bantuan pada pengusaha di beberapa
kecamatan yang punya ciri khas seperti budi daya ikan bandeng, udang windu, tenun perengan dan keripik suku Modo. Tapi semua usaha-usah itu, bukan lahir dari kampung halamannya di Ngimbang, Lamongan bagian selatan. Ingin desanya juga bersaing dengan daerah lain, dijadikannya nama Ngimbang sebagai brand usaha kuliner miliknya.

Membawa nama daerah, tentu Dymas tak mau usahanya ini cuma ala kadarnya. Dia berusaha memberikan ciri khas yang jadi pembeda dengan usaha serupa.

"Semula saya hanya membuat produk seadanya yang penting enak. Namun setelah usaha katering makin dikenal, saya harus ciptakan ciri khas. Saya buat penelitian pengembangan produk dan studi konsumen di laboratorium pangan. Dari 30 orang panelis, muncullah nama Ayam Bakar Ngimbang," ungkap pria kelahiran Mei 1984 ini.

Dari situlah usaha yang mulanya hanya bermodal Rp 4,5 juta itu berkembang dan diterima masyarakat. Sejak didirikan pada 2006, sejumlah outlet mejeng mulai di kampus sampai mal ternama di Malang.

Pencapaian yang cukup baik buat Dymas. Sebagai pengusaha dari nol, dirinya bangga dengan hasil saat ini. Meskipun, urusan dagang bukan hal baru buatnya.

Semasa SD, Dymas pernah dagang serangga undur-undur sebagai bahan obat dengan harga Rp 500, kemudian dia jual menjual ikan hias. Bahkan di SMP, dia tak malu menjual burung puyuh.

"Saya sempat jadi siswa terkaya di sekolah karena sudah mendapat omzet Rp 10.000 per hari," kelakarnya.

Sebagai pebisnis, rasanya belum bisa dikatakan tangguh bila belum merasakan pasang surut. Itu pula yang pernah dialami Dymas. Menurutnya, merebaknya flu burung di Indonesia sekitar 2007 an lalu sempat membuat bisnisnya terjun bebas hingga omzet hanya 25 persen.

"Prinsip saya sumber uang bisa sama. Karyawan bekerja pada seorang enterpreneur. Lebih malu bula saya melamar jadi manajer padahal atasan saya D3 atau lulusan SMU. Mending buka perusahaan sendiri dan mempekerjakan anak S1 untuk pengelolanya," tegas penerima sejumlah penghargaan wirausaha ini.

Kini dia bisa membuat kedua orangtuanya tersenyum bangga. Tanpa harus meninggalkan pendidikan, dia bisa tetap bekerja bahkan menjadi pengusaha dengan gelar S2 Ilmu gizi di Universitas Negeri Solo.

Dari usaha tak sengajanya ini, kini Dymas bisa mengantongi Rp 26 juta per bulan atau Rp 312 juta per tahun dengan keuntungan bersih setahunnya Rp 166 juta.


sumber : merdeka.com
Share: