Pemerintah masih tutup kran impor fillet patin

Produk fillet ikan patin Indonesia masih kalah bersaing dengan Vietnam. Untuk mendorong perkembangan industri dalam negeri, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) masih menutup impor produk jenis ikan tersebut.

Saut P Hutagalung, Direktur Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan (P2HP) KKP mengatakan, sejak tahun 2012 lalu izin impor untuk produk fillet ikan patin tidak diberikan. "Kita kendalikan produksi patin dalam negeri dulu," kata Saut belum lama ini.

Mengutip data KKP produsen fillet patin dalam negeri saat ini masih sedikit. Jumlahanya hanya sekitar tujuh pabrik dengan kapasitas terpasang rata-rata hanya sekitar lima ton per hari, atau sekitar 350 ton fillet patin per bulan.

Dibandingkan dengan fillet patin asal Vietnam, fillet patin lokal harganya relatif lebih tinggi. Hal ini disebabkan karena produsen fillet patin lokal tidak memanfaatkan produk sisa ikan menjadi produk bernilai tambah. "Kalau di Vietnam, kulit dan tulang dimanfaatkan untuk tepung, tetapi di dalam negeri tidak terpakai," ujar Saut.

Saut mengakui, untuk membangun pabrik pengolahan produk sampingan dari ikan memang tidak mudah. Ketersediaan bahan baku yang berkelanjutan dengan volume yang stabil menjadi faktor utamanya, sehingga biaya prosesing dapat terjangkau.

Saut bilang, harga fillet ikan patin ekspor asal Vietnam sampai dipasaran harganya dapat mencapai US$ 3,5 per kg-US$ 3,6 per kg. Sementara untuk fillet patin lokal harganya lebih tinggi hingga mencapai Rp 58.000 per kg-Rp 60.000 per kg.

Faktor lain yang mengakibatkan harga fillet patin asal Vietnam lebih murah adalah sistem integrasi yang digunakan. Setidaknya 80% dari pabrik pengolahan fillet patin di Vietnam memiliki tambak ikan sendiri. Dengan demikian, biaya logistik dapat ditekan.

sumber : kontan.co.id
Share: