Pasca India, ekspor udang ingin kalahkan Vietnam

Udang masih menjadi komoditas ekspor unggulan Indonesia untuk sektor perikanan. Nilai ekspor udang terus meningkat pada tahun ini.
Dalam data ekspor yang dirilis oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tercatat volume ekspor udang periode Januari - Juni 2016 naik 8,5% dari 96,685 ton menjadi 107,539 ton. Dari sisi nilainya juga naik sekitar 10,6% dari US$ 851,199 menjadi US$ 882,092.
Nilanto Prabowo Dirjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) KKP mengaku ekspor udang naik karena volume ekspor udang dari India anjlok lantaran terkena virus.
Selain itu, permintaan pasar luar negeri terus meningkat. Makanya, untuk dapat menggenjot ekspor udang Pemerintah bakal melakukan rehabilitasi tambak udang. "Kami akan dorong produksi udang naik dengan rehabilitasi lahan yang selama ini kurang optimal," katanya.
Sayangnya, Nilanto enggan menjelaskan kapan rahabilitasi lahan tersebut bakal dilakukan. Asal tahu saja, untuk sepanjang tahun 2016 Pemerintah menargetkan produksi udang bisa mencapai 713.000 ton.
Budhi Wibowo, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Pengolahan dan Pemasaran Produk Perikanan Indonesia (AP5I) menilai langkah peremajaan tambak udang dibutuhkan, untuk meningkatkan hasil produksi.
Bila dilakukan rehabiltasi pada 5.000 Hektare (Ha), produksi yang dihasilkan dapat mencapai 120 juta Kilogram (Kg). Atau setiap hektare-nya dapat dipanen dua kali dalam setahun dengan hasil produksi sekitar 15 ton tiap kali panen.
"Kalau harga jualnya sekitar US$ 7 per Kg maka dapat menghasilkan devisa lebih dari US$ 1 miliar," katanya pada KONTAN.
Otomatis, dengan rehabilitasi ekspor Indonesia dapat mengalahkan Vietnam yang mencapai US$ 6,5 miliar ditahun 2015 lalu. Untuk tahun lalu, nilai ekspor udang RI hanya sekitar US$ 3,9 miliar.
Lainnya, untuk mengerek produksi udang AP5I menyarankan Pemerintah juga menyiapkan infrastruktur tambahan seperti listrik, jalan, jembatan, irigasi, bibit, obat, dan labotarium. Tidak hanya itu, Pemerintah juga diharapkan memberikan dukungan terkait sertifikasi internasional tambak dan jalan melakukan rebranding CBIB menjadi INDOGAP sehingga bisa meningkatkan kepercayaan pasar internasional.
Yang tidak kalah penting juga, Pemerintah memberikan dukungan finasial dari perbankan. "Saat ini perbankan masih enggan melakukan financing terhadap budidaya perikanan karena dianggap terlalu berisiko," tambahnya.
Iwan Sutanto Ketua Umum Shrimp Club Indonesia (SCI) mengaku tambak yang butuh direvitalisasi adalah tambak rakyat karena kebanyakan saluran air dan kolamnya kurang memadai. Asal tahu saja, tambak udang rakyat masih mendominasi jumlah tambak udang di Indonesia.
Meski volume ekspor udang dalam negeri naik, saat ini suplai udang dipasaran sedang tidak bagus. Iwan menjelaskan, penurunan suplai ini karena petani udang melakukan panen raya H-3 puasa atau pada bulan Juni lalu.
Walhasil, saat ini udang-udang masih dalam tahap pertumbuhan. Suplai udang akan kembali normal sekitar awal Oktober.
sumber : kontan.co.id
Share: