Para petani udang masih minim catatan (2)

Udang galah merupakan jenis udang yang unik karena memiliki dua habitat, yaitu air asin dan air tawar. Persebaran udang galah  kebanyakan di daerah tropis dan subtropis. Habitat atau lingkungan udang galah adalah sungai yang dipengaruhi oleh pasang surut, danau, waduk dan kolam.
Namun, pada sentra budidaya udang galah di Desa Padang Kerta, Karangasem ini, pembudidayaan udang galah dilakukan di lahan sawah yang disulap menjadi kolam pembudidayaan. 


Udang galah dapat dikatakan omnivora. Makanan utamanya adalah cacing, serangga air, udang renik, telur ikan, ganggang, tumbuhan air, bahkan jenisnya sendiri. “Tingkat kematian sulit diketahui karena yang mati tidak kelihatan, karena menjadi makanan udang yang lain,” ujar Mangku Wayan Kantun, mantan ketua kelompok pembudidaya Mina Kerta Usaha.
Secara fisik, perbedaan udang galah jantan dan betina terletak pada bentuk kaki jalan yang sangat besar kuat, bercapit besar, dan panjang pada udang galah jantan. Perbedaan lainnya terletak pada kepala, perut dan lubang kelamin. Perbedaan tersebut hanya bisa dilihat pada udang dewasa.
Nengah Sudarmo, pembudidaya udang galah di sentra ini yang sekaligus menjadi ketua pembudidaya Mina Kerta Usaha mengatakan, para pembudidaya mendapatkan bibit udang dari Desa Pesinggahan, Klungkung,” ujarnya. Harga beli bibit sebesar Rp 40.000 untuk setiap 1.000 benih.
Para pembudidaya umumnya memerlukan sebanyak 5000 benih udang galah tiap 1 are lahan. Dengan demikian tiap penebaran mereka perlu merogoh kocek hingga Rp 200.000 setiap are. Satu are setara 100 meter persegi.
Para pembudidaya yang ditemui KONTAN di sentra ini pada awal Maret lalu ini masih bekerja secara tradisional. Bahkan mereka tidak memiliki sistem pembukuan untuk mengatur keluar masuk uang.
Dari sekitar 10 orang pebudidaya yang KONTAN temui, hanya Mangku yang memiliki catatan mengenai bisnis udangnya. Mangku mengatakan, sepanjang tahun 2012, dari 11,5 are (1.100 m²) miliknya, ia berhasil memanen udang seberat 280 kg.
Kala itu harga jual udang galah adalah Rp 62.000 per kg. Dengan demikian,  ia berhasil mengantongi omzet sekitar Rp 17,3 juta di 2012. Biaya operasional seperti bibit udang, menurut catatan Mangku, sebesar Rp 7,8 juta. Sehingga pada 2012 ia berhasil mencetak laba sekitar Rp 10 juta.
Laba itu didapat dalam delapan bulan masa budidaya. Pada 2013, angka panen meningkat. Mangku berhasil memanen udang sekitar 340 kg dengan harga jual Rp 75.000 kg. Omzet tahun lalu bisa mencapai Rp 26 juta.
Pada tahun lalu, biaya operasional berupa bibit dan pakan menghabiskan Rp 11 juta. "Laba bersih Rp 15 juta di 2013. Ini berdasarkan catatan saya pribadi," ujar Mangku.

sumber : kontan.co.id
Share: