Omzet cemerlang dari budidaya kecombrang (1)

Selain bisa dijadikan bahan campuran makanan, pohon kecombrang kerap jadi tanaman hias. Dengan berbagai manfaatnya tersebut, kini banyak masyarakat yang membudidayakan kecombrang. Pembudidaya bisa menjual bibit dan bunga kecombrang dengan omzet hingga mencapai Rp 7 juta per bulan.
Tanaman kecombrang, boleh jadi, belum familiar di telinga masyarakat. Namun, bagi para pecinta kuliner, tanaman ini sudah tidak asing lagi. Maklum, daun kecombrang kerap dimanfaatkan sebagai bahan campuran atau bumbu penyedap berbagai macam masakan.
Bagi masyarakat di Jawa Barat, kuntum bunga kecombrang sering dijadikan lalapan yang dimakan bersama sambal. Sementara itu, bagi masyarakat di Jawa Tengah, bunga kecombrang kerap diolah menjadi bahan pecel dan urap. Masih banyak lagi masyarakat di berbagai daerah yang memanfaatkan kecombrang sebagai bahan campuran kuliner tradisional.
Selain itu, karena wangi bunganya yang sedap dan khas, kecombrang juga bisa dijadikan tanaman hias. Sepintas, tanaman kecombrang mirip tanaman hias pisang-pisangan. Bentuk batang tanaman ini berwarna hijau dengan kuncup bunga agak kemerahan. Tinggi tanaman yang memiliki nama latin Etlingera elatior ini bisa mencapai 5 meter.
Dengan berbagai manfaatnya tersebut, kecombrang banyak dibudidayakan masyarakat Indonesia. Salah satu pembudidaya kecombrang adalah Budiman Bagus asal Semarang Jawa Tengah.
Pria yang akrab disapa Bagus itu mengaku sudah membudidayakan kecombrang sejak 10 tahun lalu. Ia membudidayakan kecombrang di atas lahan sekitar 500 meter persegi di halaman pekarangan rumahnya.
Selain menyediakan bibitnya untuk tanaman hias, Bagus juga menjual bunga kecombrang buat kebutuhan kuliner. Untuk tanaman hias, Bagus membanderol bibit kecombrang Rp 50.000 per pot. Sedangkan untuk bahan makanan, ia menjual dengan banderol Rp 50.000 per kilogram (kg).
Dalam sebulan, Bagus mengaku bisa menjual sekitar 100 pot bibit kecombrang ke sejumlah perusahaan, instansi atau pengelola taman kota. Sementara untuk bunga kecombrang, Bagus bisa menjual lebih dari 30 kg per bulan ke sejumlah pasar tradisional di sekitar kota Semarang. Jika dihitung, omzet yang bisa dipetik Bagus dari penjualan bibit dan bunga kecombrang bisa mencapai Rp 7 juta per bulan.
Pembudidaya kecombrang lainnya adalah Yuke Rahmadana asak Padang, Sumatra Barat. Di bawah bendera usaha CV Jaya Makmur, Yuke mengaku telah membudidayakan kecombrang sejak tahun 2007. Ia menanam kecombrang di lahan seluas 1 hektare di daerah Teluk Bajo, Padang. “Ada ratusan pohon kecombrang di lahan budidaya itu,” ujar Yuke.
Dalam sekali panen, Yuke bisa memetik 300 kg bunga kecombrang. Lazimnya, panen dilakukan tiga bulan sekali. Dus, dalam sekali panen, Yuke bisa meraup omzet Rp 2,7 juta-Rp 6,5 juta. Sebagian besar pelanggannya berasal dari Jakarta, Pekanbaru dan Padang.       

(Bersambung)

sumber : kontan.co.id
Share: