Nurul Hidayati, Guru Honorer Pengusaha Olahan Lele

Seorang guru honorer Nurul Hidayati (36) mewujudkan hobi membuat kue,yang biasa dilakukannya setahun sekali di hari raya Lebaran, menjadi peluang bisnis. Setelah enam tahun berjalan, usaha musiman (kue kering) yang diproduksi di rumahnya itu mulai dijalani dengan serius. Abon ikan Lele menjadi pilihan dalam bisnis baru yang dijalaninya dua tahun belakangan ini.
Saat dia tengah asyik menggarap usaha dengan serius, pemilik usaha yang mengusung nama Sekar Mutiara, yang beralamat di Jalan Rambutan Blok AA/46, Meganti Satelit Indah, Kabupaten Gresik, Jawa Timur itu gamang.
Karena usaha yang ditekuni dua tahun lalu itu tidak mendapat restu orangtua yang berharap dirinya serius menjadi guru, sebagai penerus keluarga..
Maklum saja, ibunya merupakan pensiunan kepala sekolah dasar yang berharap anaknya kelak bisa menjadi penerus perjuangan sang ibu.
“Sebenarnya saya lagi gamang ini. Bagaimana harus menjelaskan kepada ibu, dan saya juga tidak mau jadi anak durhaka,” ujar ujar Nurul Hidayati saat ditemui di acara Sekar Womenpreneur Awards (SWOMA) 2012 di FX Sudirman, awal November lalu.
Nurul merintis usaha camilan dari ikan Lele ini sejak akhir 2010 dengan 5 produk, yakni abon lele, rambak lele, kerupuk lele, baby Lele Crispy, dan Sirip Lele Crispy. Kini camilan yang dijajakan di rumahnya di Kompleks Menganti Satelit Indah, Jalan Rambutan Blok AA/46, Desa Sidojangkung, Kecamatan Menganti, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, itu sudah mengeruk omzet Rp 16 juta sampai 20 juta perbulan. Setidaknya 2 kwintal ikan Lele digunakannya setiap minggu untuk memenuhi kebutuhan produksi camilan itu.
“Awalnya dari teman yang mencicipi abon saya lalu pesan. Lalu kok banyak yang pesan. Akhirnya ya saya seriusin saja,” ujar salah satu finalis dari kategori pengusaha pemula yang digelar majalah Sekar, grup majalah Kompas-Gramedia.
Semua itu berawal dari hobinya membuat makanan. Camilan yang dibuat Wali Kelas 3 SDN Randu Pandangan, Kecamatan Menganti itu banyak diminati terutama teman dan tetangganya yang mampir ke rumahnya saat Lebaran lantaran cita rasanya yang pas dilidah.
Camilan pertama yang dibuat adalah kue kering Lebaran. Produk olahannya itu pun banyak mendapat pujian dan banyak yang meminta membuatkan untuk dibawa pulang.
Dari kue kering itu, anak pasangan H Choirul Huda-Hj Sri Wahyuni itu merambah ke penganan lainnya. Di antaranya camilan abon dari ikan. Dia masih ingat, tahun 2004 dirinya sudah membuat camilan abon ikan patin. Abon yang dibuat sebagai teman makan nasi di rumah itu pun banyak yang suka.
Hanya saja, lantaran persediaan ikan patin yang terbatas dan harganya relatif mahal, akhirnya Nurul mengganti dengan ikan Lele yang persediannya belimpah. “Sebenarnya ikan patin itu lebih dulu saya buat. Tapi itu mahal dan ikan Lele lebih mudah dapatnya. Tidak menyangka banyak yang pesan.” ujarnya.
Selama kurang lebih enam tahun Nurul melayani pesanan abon ikan dengan konsep tradisional, yakni dibungkus dalam kemasan plastik es transparan yang diikat kuat tanpa label.
Baru September 2010 dirinya memperbaiki usahanya itu, dengan mengusung merek Sekar Mutiara pada setiap produk olahannya.
Rp 12 juta
Nurul menguras tabungan hasil keuntungan bisnis kue kering sebesar Rp 12 juta sebagai modal awal bisnis barunya itu. Tentu saja, usaha kali ini berbeda jauh dengan yang dijalani sebelumnya. Kemasan yang digunakan lebih modern, yakni menggunakan plastik almunium yang bersifat kedap udara dan anti bakteri. Dengan begitu makanan di dalamnya relatif lebih kuat dan tahan lama. Produk makanan olahannya itu kini nyaris tidak ada bedanya dengan penganan yang dijajakan di gerai pasar modern.
Dia mengatakan ide kemasan baru dan pemasaran itui diperoleh dari pelatihan atau seminar seputar UKM yang diikutinya. “Ini semua berkat pelatihan dan seminar yang saya ikuti,” ujar pemilik usaha salah satu binaan dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Pemprov Jawa Timur itu.
Selain pelatihan dan seminar, pameran juga menjadi salah satu kegiatan yang biasa diikuti Nurul. Lulusan Sastra Jepang Universitas 17 Agustus (Untag) Surabaya itu yakin betul bahwa mengikuti ajang pameran itu bisa mendongkrak hasil penjualan.
Di ajang itu, istri dari Roni Ristiyanto itu mengatakan dengan aktif berpameran produk buatannya bisa dikenal oleh pembeli (buyer) yang datang dari berbagai macam daerah, dan terkadang dari luar negeri. “Terutama banyak orang yang pesan melalui telepon beberapa hari setelah pameran,” ujar Nurul yang sedang mengambil kuliah PGSD itu.
Kegelisahan
Bisnis yang dijalaninya itu tidak hanya berorientasi keuntungan semata. Putri pertama dari dua bersaudara itu mengatakan pemilihan ikan Lele, yang menjadi bahan baku bisnis olahannya itu karena dia ingin menyelamatkan kegelisahan para peternak lele terhadap hasil tambaknya yang berbadan besar dan panjang.
Ikan dengan ukuran besar seperti itu tidak pernah laku di kalangan pengusaha pecel lele, yang maunya menampung ukuran kecil-sedang semata.
“Lele yang besar dan panjang sekitar 75 centimeter mana ada yang mau. Makanya saya manfaatkan itu,” ujarnya.
Selain sejahtera, Nurul menjelaskan produk olahannya juga menyehatkan bagi pelanggan. Camilan yang biasa digunakan sebagai teman nasi ini tidak menggunakan bahan kimia, dan bebas MSG. Bahkan Nurul tidak menggunakan minyak dalam proses produksinya itu.
“Sama sekali tidak berminyak karena bukan digoreng melainkan matang dengan oven,” ujarnya.
Penyeimbang
Nurul membuat lima macam makanan olahan dari bahan baku Lele. Semua varian itu, diluncurkan berbarengan tanpa jeda waktu seperti yang banyak dilakukan pengusaha lainnya.
Alasannya, peluncuran varian secara bersamaan itu dilakukan sebagai penyeimbang penjualan di pasar terhadap hasil produk olahannya itu. Diharapkan omzet bisa stabil dan bila perlu meningkat.
“Selera di masing- masing daerah itu berbeda. Seperti di Surabaya itu abon lele laku keras, tapi kalau di Bali justru yang rasa pedas permintaannya tinggi,” ujarnya.
Abon Lele merupakan produk olahan pertama di Sekar Mutiara. Abon Lele itu memiliki tiga rasa, yakni abon lele klastik, rasa pedas, dan Rasa Bawang.
Pembuatan abon ikan lele itu dilakukan secara sederhana, yakni daging lele dipisahkan dengan kulit dan siripnya. Kemudian daging itu dikukus dan diracik dengan aneka macam bumbu. Setelah itu dikeringkan secara khusus sehingga menjadi abon.
Dua bulan berjalan, Nurul kembali memutar otak agar potongan kulit lele, tulang dan siripnya itu tidak terbuang sia-sia. Akhirnya dia mencoba membuat rambak kulit lele, yang memanfaatkan kulit lele segar, serta Baby Lele Crispy, dari sirip lele.
Bahkan, dirinya sekarang sedang mencoba mengolah tulang ikan Lele untuk dijadikan sesuatu yang bermanfaat, sehingga tidak dibuang begitu saja.
“Saya sudah beberapa kali mencoba membuat tepung dari tulang ikan Lele, tapi selalu gagal. Tapi sekarang masih mencoba terus,” ujarnya.

sumber : budidaya-ikan.com



Share: