Nila Jantan Tumbuh Lebih Cepat Dibanding Betina

Ikan nila merupakan salah satu ikan konsumsi dari 10 jenis ikan yang menjadi target peningkatan produksi yang dicanangkan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) 2014. Untuk itu, program tersebut dapat segera terwujud dengan pembudidayaan ikan nila jantan memiliki pertumbuhan 40 persen lebih cepat dibandingkan dengan ikan nila betina.
Hal ini sampaikan pengajar dan peneliti Departemen Budidaya Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor (IPB) Alimuddin. “Hal tersebut dapat dicapai dengan cara mengawinkan ikan jantan “super” (berkromosom kelamin YY) dengan ikan betina normal (XX). Rekayasa reproduksi melalui transplantasi sel testikular merupakan salah satu solusi dalam mengatasi permasalahan ketersediaan benih ikan nila,” kata Alimuddin.
Metode pembuatan individu ikan berkromosom YY dapat dilakukan dengan metode sex reversal. Saat ini sudah dikembangkan ikan nila Genetically Super Male of Tilapia (GESIT), yaitu ikan nila hitam jantan berkromosom YY. Namun demikian, produksi ikan nila GESIT masih menggunakan induksi hormon sintetik yang dikhawatirkan memiliki pengaruh residu pada lingkungan.
Teknologi transplantasi sel testikular membutuhkan ikan resipien yang cocok dan dapat menerima serta mendukung perkembangan sel testikular ikan donor. Alimuddin menjelaskan, ikan nila memiliki waktu matang gonad relatif cepat dan dapat dipisahkan dengan mudah di dalam wadah yang terkontrol sehingga akan mendukung kegiatan rekayasa genetik di masa mendatang.
Ikan nila memiliki beberapa strain di antaranya ikan nila putih, hitam, dan merah. Ikan nila merah dapat dihasilkan melalui persilangan antara ikan nila putih dan hitam. Ikan jenis ini dapat mencapai saat dewasa pada umur 4–5 bulan dan mencapai pertumbuhan maksimum untuk bereproduksi sampai berumur dua tahun. Dengan pakan yang mengandung 20-25 persen protein, ikan nila dapat bertumbuh dengan cepat dan maksimal.
“Ikan nila hasil transplantasi diharapkan dapat menjadi calon induk yang nantinya dapat dikawinkan untuk menghasilkan keturunan ikan nila putih jantan (YY). Ikan nila putih YY ini nantinya akan dikawinkan dengan ikan nila hitam betina (XX) untuk menghasilkan ikan nila merah 100 persen jantan secara masal,” ujarnya menjelaskan.
Manipulasi kromosom merupakan salah satu teknik sex reversal yang dirasa aman untuk diterapkan. Kendala utama yang dialami pada budidaya ikan monosex culture jantan nila merah adalah kurangnya ketersediaan induk jantan YY. Sebab penggunaan hormon sudah dilarang karena telah terbukti dapat merusak organisme dan lingkungan.
“Saat ini, penelitian baru mencapai tahap analisis keberhasilan transplantasi sel testikular ikan nila putih dengan melihat kolonisasi dan proliferasi dengan dosis sel donor berbeda. Sementara tahap selanjutnya adalah menghasilkan indukan ikan nila putih dengan kromosom YY (jantan semua),” imbuhnya.
Penelitian untuk menghasilkan indukan ikan nila putih dengan kromosom YY berhasil dilakukan oleh sekelompok mahasiswa dari Departemen Budidaya Perairan melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) 2012. Tim yang diketuai oleh Nurlatifa Khairun Nisa di bawah asuhan Alimuddin ini berhasil meraih medali setara perak dalam Pekan Ilmiah Nasional (PIMNAS) ke-25 di Yogyakarta beberapa waktu lalu.

sumber : budidaya-ikan.com
Share: