Memupuk laba dari budidaya tanaman daun dewa (1)

Seiring meningkatnya tren gaya hidup sehat, budidaya tanaman obat semakin diminati masyarakat di tanah air. Salah satunya daun dewa. Tanaman asal Myanmar ini bisa dimanfaatkan khasiatnya untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Pembudidaya tanaman ini bisa meraup omzet Rp 8 juta per bulan.
Seiring meningkatnya tren gaya hidup sehat, budidaya tanaman obat semakin diminati masyarakat di tanah air. Maklum, tanaman herbal dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku obat-obatan.
Dari sekian jenis tanaman herbal, saat ini tanaman daun dewa sedang menjadi primadona di masyarakat. Daun dewa bermanfaat untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Di antaranya, stroke, rematik, jantung, menurunkan kadar kolesterol, rematik, tumor, dan menyembuhkan luka bakar.
Tanaman yang memiliki nama latin Gynura divaricata ini, merupakan tanaman herbal yang tumbuh pada ketinggian 200 meter dari permukaan laut (mdpl) hingga 800 mdpl. Tanaman asal Myanmar ini masuk dalam keluarga compositae.
Di Indonesia, penyebutan nama daun dewa berasal dari Sumatra, karena bagian tepi daun tanaman ini bergerigi layaknya baju para dewa. Daun dewa juga kerap disebut beluntas China.
Salah satu pembudidaya tanaman dewa adalah Arif Prabowo asal Sleman, Yogyakarta. Arif membudidayakan daun dewa sejak tahun 2014 di atas lahan seluas 100 meter persegi (m²). Di lahan itu, Arif menanam sekitar 50 batang pohon daun dewa.
Menurut Arif, masa panen daun dewa terbilang singkat. Pada usia tiga bulan, daun dewa sudah bisa dipanen. Sekali panen, biasanya Arif bisa mendapat 30 kilogram (kg) daun dewa kering.
Karena memiliki kandungan air tinggi, 10 kg daun dewa yang baru dipetik hanya menghasilkan 1 kg daun kering. "Tingginya kandungan air membuat daun dewa tebal dan berat," kata Arif.
Yang menarik, harga jual daun dewa ditentukan sesuai iklim di Indonesia, yakni musim hujan dan kemarau. Jika sedang musim kemarau, harga daun dewa hanya Rp 45.000 per kg. Tapi, pada musim hujan, harganya bisa naik jadi Rp 60.000 per kg.
Kenaikan harga tersebut, kata Arif, dipengaruhi oleh proses pengeringan daun dewa pada musim hujan yang bisa memakan waktu lebih lama. Pada masa musim hujan, daun tanaman ini juga rawan busuk atau berjamur.
Arif mengklaim, dalam sebulan bisa menjual 111 kg daun dewa kering. Dari penjualan sebanyak itu, Arif mengaku bisa mengantongi omzet Rp 5 juta per bulan.
Pembudidaya daun dewa lainnya adalah Prabowo dari Jogjakarta. Ia membudidayakan tanaman ini sejak tahun 2010 di atas lahan 500 m2.
Dari lahan ini, setiap 3-4 bulan sekali, Prabowo bisa memanen daun dewa 50 kg-1 kuintal. Harga daun kering dibanderol Rp 50.000-Rp 60.000 per kg. Prabowo juga menjual bibit daun dewa Rp 10.000-Rp 20.000 per polibag.
Dari hasil budidaya daun dewa, Prabowo mengaku bisa meraup omzet Rp 7 juta- Rp 8 juta per bulan. “Budidaya tanaman ini diminati masyarakat karena sebagai bahan baku obat,” ujarnya. 

sumber : kontan.co.id
Share: