Makarina, Makaroni Ikan Lele

Mencari camilan dan makanan sehat serta bergizi dari bahan baku ikan tidak lagi sulit. Inovasi dari Badan Pegkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) makin memperkaya pilihan camilan dan makanan bermutu.
Banyak produk pangan lokal yang jika dikonsumsi bisa menggantikan nasi dan mie berbahan tepung terigu, seperti bihun jagung, makaroni jagung, mie sagu, makarina (makaroni ikan) dan surimi berbahan baku ikan air tawar seperti lele (Clarias Batracus) dan nila (Tilapia Musambicus).
Perekayasa muda BPPT, Renny Primasari dan Maria Nooza berhasil membuat produk pangan olahan yang diberi nama “MAKARINA” yang merupakan inisial dari Makaroni Ikan. Produk hasil inovasi mereka bertemakan diversifikasi pangan, yakni subtitusi tepung terigu dengan tepung jagung, serta menggunakan ikan lele sebagai produk non ekonomis. Makarina seratus persen berbahan baku lokal, dan harga jualnya setengah dari produk makaroni serupa di pasaran.
Berkat karya inilah keduanya meraih penghargaan pada Lomba Inovasi Pengolahan Hasil Perikanan Tingkat Nasional, yang diadakan oleh Kementrian Kelautan dan Perikanan, tahun 2011.
Makarina dikembangkan di LABTIAB BPPT – Puspiptek, Serpong, dengan menggunakan bahan baku utama ikan lele dan jagung, dan sama sekali tidak menggunakan bahan impor. Teknologi pembuatan makaroninya menggunakan ekstruder yang juga karya perekayasa BPPT sendiri.
Selain dapat diolah dalam beragam masakan, Makarina juga mempunyai kandungan protein dan asam amino yang baik untuk peningkatan kecerdasan otak. Karena tanpa sedikitpun bahan kimia seperti pengawet dan pewarna, makanan ini pun dapat dikonsumsi oleh segala umur.
Kandungan protein tepung jagung sangat rendah, hanya 5-6 persen, sedangkan kandungan protein lele sebesar 17 persen. Untuk meningkatkan kandungan protein yang ada di dalam makaroni, diperkaya dengan protein dari hewani, yaitu dari ikan lele. Sehingga, kandungan protein makarina jauh lebih tinggi dan lebih lengkap daripada makaroni umumnya. Kelengkapan proteinnya lebih komplet dari makaroni yang ada di pasaran karena dicampur protein hewani.
Makanan berprotein tinggi sangat dibutuhkan anak-anak dan remaja bagi pertumbuhan. Untuk itu, makarina cocok dikonsumsi anak-anak dan remaja yang cenderung doyan jajan dan ngemil karena makarina bisa dijadikan camilan sehat.
Makarina juga pas bagi penderita diabetes dan peserta program diet. Karena jagung itu punya kelebihan indeks glisemik yang rendah. Ketika dikonsumsi manusia dia tidak langsung segera pecah menjadi glukosa yang berpotensi meningkatkan gula darah.
Dari sisi teksturnya, adonan makaroni menggunakan tepung jagung dan lele mempunyai kekenyalan yang pas. Dari hasil uji rebus, makaroni bisa mengembang dua kali lipat. Digoreng pun tidak ada masalah pada penyimpangan rasa. Tidak seperti makaroni lain, makarina tidak akan mengembang hingga terlalu lembek walaupun direndam dalam air selama 6 jam bentuknya masih tetap beraturan.
Dari sisi harga, tepung jagung pun jauh lebih murah dibandingkan tepung terigu. Hitung punya hitung, jika dalam skala kecil, makaroni ikan bisa dijual dengan harga Rp20 ribu per kg. Kalau skalanya industri bisa lebih murah lagi harganya. Harga makaroni ikan ini jauh lebih murah dibandingkan harga makaroni premium di pasaran yang dibanderol Rp36 ribu per kg. Tertarik mencoba?

sumber :budidaya-ikan.com
Share: