Langkah RI menuju produsen rumput laut terbesar

Produksi rumput laut nasional sepanjang 2014meningkat menjadi 10,2 juta ton. Jumlah tersebut meningkat lebih dari tiga kali lipat bila dibandingkan produksi rumput laut tahun 2010 yang hanya 3,9 juta ton. Peningkatan tersebut membuat, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) semakin optimis menjadikan Indonesia sebagai salah satu produsen rumput laut terbesar di dunia.
Menteri KP Susi Pudjiastuti mengatakan pemerintah berkomitmen memperkuat industri pengolahan rumput laut nasional. Selain untuk meningkatkan nilai tambah produk, kebijakan itu juga meningkatkan kemandirian dan menjunjung kedaulatan bangsa. 


Dengan kondisi ini, maka rumput laut memiliki posisi yang strategis dalam menopang perekonomian nasional melalui peningkatan penerimaan devisa negara sekaligus dapat meningkatkan kesejahteraan pembudidaya dan masyarakat sekitar lingkungan budidayanya.
Menurut Susi peningkatan produksi rumput laut ini membuktikan bahwa rumput laut bisa diandalkan sebagai sumber mata pencaharian masyarakat pesisir. Selain karena cara budidayanya yang cukup mudah dan murah, pasarnya juga masih terbuka lebar.
"Sejalan dengan kebijakan Presiden, KKP akan terus melakukan pembinaan secara terus-menerus kepada masyarakat dalam hal membudidayakan rumput laut", ujar Susi.
Salah satu kawasan budidaya rumput laut yang menjadi andalan pemerintah adalah Kabupaten Sumba Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Sejak ditetapkan sebagai kawasan minapolitan perikanan budidaya pada tahun 2010, produksi rumput laut di daerah ini terus mengalami peningkatan. Di mana tahun 2014, total produksinya mencapai 2.400 ton.
Kawasan Minapolitan Budidaya Rumput Laut di Kabupaten Sumba Timur juga merupakan kawasan minapolitan yang meraih peringkat A. Di mana, kawasan ini telah berhasil mengintegrasikan sistem usaha dari hulu sampai hilir yang meliputi sistem produksi, pengolahan dan pemasaran dengan didukung sarana prasarana yang memadai seperti transportasi dan sarana produksi.
Perkembangan kawasan minapolitan budidaya rumput laut di Kabupaten Sumba Timur ini dapat memunculkan sentra kawasan budidaya rumput laut di Indonesia Bagian Timur dan dapat menggerakkan perekonomian daerah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. "Ini dapat dijadikan contoh daerah lain yang memiliki potensi yang sama dengan Kabupaten Sumba Timur", ujar Susi.
Awalnya, pada tahun 2010 produksi rumput laut basah di Kecamatan Pahunga Lodu sebagai kawasan utama minapolitan hanya mencapai 439,9 ton. Kemudian meningkat menjadi 1.560,4 ton di tahun 2014 atau mengalami kenaikan rata-rata 40% per tahun. Potensi lahan budidaya rumput laut di Kabupaten Sumba Timur cukup luas mencapai 15.069,4 hektare (ha).
Selain itu cuaca di daerah ini juga mendukung untuk budidaya rumput laut, sehingga memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai komoditas unggulan daerah. Maka atas dasar itulah, pemerintah menetapkan Kabupaten Sumba Timur sebagai salah satu kawasan minapolitan berbasis perikanan budidaya dengan komoditas unggulan rumput laut. 

sumber : kontan.co.id
Share: