Kelompok Ikan Kulamku Lhokseumawe Panen 2 Ton Ikan Lele

Kelompok budidaya ikan air tawar Kulamku berhasil memproduksi ikan lele mencapai dua ton per sekali panen, bahkan usaha yang dilakukan secara berkelompok itu mampu menembus pasar hingga ke luar Lhokseumawe dan Aceh Utara.
Ketua Kulamku, Zulfikar, di sela panen raya ikan lele mengatakan, usaha budidaya ikan air tawar dilakukan sejak satu setengah tahun lalu.
Dalam kurun waktu itu banyak suka duka dialami, bahkan tidak jarang mereka mengalami rugi.
“Namun saya tidak putus asa, dan secara perlahan saya coba terus sambil belajar kepada orang-orang yang sudah berpengalaman.
Dan alhamdulillah, usaha ternak ikan air tawar terutama lele sudah bisa menjadi mata pencaharian pokok, sekarang bisa untuk menghidupi keluarga.
Bahkan untuk panen kali ini bisa mencapai dua ton dan kami pasarkan tidak hanya di Lhokseumawe dan Aceh Utara tapi juga sudah tembus hingga ke Bener Meriah dan Aceh Tengah,” ungkapnya bangga.
Diakui, dia dan beberapa teman lainnya tidak hanya membudidaya ikan lele, tapi juga ikan nila, gurami maupun ikan mas.
“Khusus ikan lele, bibit tidak lagi dibeli dari Medan Sumatera Utara, tapi kami sudah mampu melakukan pendederan sendiri. Bahkan kami juga sudah siap memasok kepada petani lainnya yang membutuhkan dengan harga standar,” ucapnya.
Hanya saja, urai Zulfikar, khusus di Lhokseumawe dan kabupaten tetangga lainnya belum ada inovasi lain terhadap ikan lele.
“Rata-rata ikan lele masih dikonsumsi di rumah-rumah makan maupun untuk kebutuhan rumah tangga. Padahal lele juga bisa dijadikan berbagai jenis menu lainnya seperti dendeng maupun sale lele. Di Aceh khususnya belum ada, kalaupun ada sifatnya masih kecil-kecilan,” katanya.
Untuk memperluas areal tambak ikan air tawar, sekarang usaha tani Kulamku sedang membebaskan lahan tambahan.
“Masih ada lahan tambak seluas 2.000 meter dan sedang kami bebaskan, karena target kami usaha ikan iar tawar ini tidak sebatas untuk budidaya tapi akan kami kembangkan sebagai obyek wisata. Akan kami buka kolam pemancingan,” tuturnya.
Satu hal, tambah Zulfikar, dia bersama petani ikan air tawar di wilayah Lhokseumawe tidak lagi disibukkan masalah pasokan bibit.
“Karena bibit sudah bisa kami deder sendiri dan hasilnya juga unggul, makanya kami selalu bekerja sama dengan para petani lainnya. Selama ini bibit yang kami butuhkan dipasok dari luar Aceh, sekarang tidak,” katanya lagi.
Sementara itu Ketua Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kota Lhokseumawe, Z Rusly, memberikan dukungan penuh terhadap program pengembangan ikan air tawar di Aceh.
“Pasar ikan air tawar di Aceh masih terbuka lebar, terutama pasar di daerah kabupaten tengah tenggara dan barat selatan.
Kawasan itu merupakan daerah pegunungan, sehingga ikan air tawar mereka suka. Berbeda dengan masyarakat yang tinggal di pesisir timur Aceh, mereka kurang suka ikan air tawar karena sudah biasa mengonsumsi ikan laut,” katanya.
Oleh karena itu, tambah Rusly, dirinya siap membantu memajukan petani terutama petani budidaya ikan air tawar. Karena peluang pasar masih terbuka luas. KTNA sendiri, ungkap Rusly, juga membina petani tambak di pesisir pantai dan juga pertanian darat dan peternakan.
“Hanya saja lahan peternakan di wilayah Pemko Lhokseumawe lokasinya terbatas, sehingga pembinaan KTNA lebih difokuskan untuk petani ikan air tawar, petani tambak pesisir pantai, pertanian darat. Sedangkan untuk peternakan akan difokuskan kepada peternak rumah tangga,” pungkasnya.

sumber : budidaya-ikan.com



Share: