Kecombrang tak membutuhkan banyak air (2)

Membudidayakan tanaman kecombrang tidak terlampau sulit. Pembudidaya hanya perlu lahan tanam yang subur dan merawat bibit kecombrang dengan baik. Area pembudidayaan juga harus secara berkala dibersihkan. Jika proses perawatan berjalan benar, pembudidaya bisa memanen bibit dan bunga kecombrang dalam dua minggu atau sebulan sekali.
Membudidayakan tanaman kecombrang, terbilang tidak sulit. Tanaman yang memiliki nama latin Etligera elatior ini hanya perlu lahan dengan keadaan tanah yang subur.
Budiman Bagus, pembudidaya kecombrang dari Semarang, Jawa Tengah mengatakan, langkah awal yang harus dilakukan adalah mencari bibit tanaman. Biasanya, kata Bagus, pada awal tahap awal, ia mengumpulkan tunas-tunas baru yang tumbuh dari tanaman kecombrang. Tunas inilah yang akan dijadikan bibit.
Setelah mendapatkan bibit, tanah harus digali dengan kedalaman 60 sentimeter (cm) untuk tempat menanam. Sebelum bibit ditanam, tanah harus digemburkan dan ditaburi dengan pupuk kompos agar lebih subur.
Jika lahan akan ditanami banyak bibit kecombrang, setiap lubang tanam harus diberi jarak 30 cm. Sebab, tanaman kecombrang bisa tumbuh hingga 1 meter.
Pada umur sekitar dua minggu, tanaman kecombrang sudah tumbuh sekitar setengah meter. Menurut Bagus, pada usia tersebut, biasanya ia telah memindahkan bibit kecombrang ke dalam polibag atau pot dan siap dijual ke pasaran.
Merawat tanaman kecombrang juga tak merepotkan. Biasanya, Bagus hanya menyiram kecombrang dua kali sehari. Namun, yang harus diperhatikan adalah hama tanaman ini. Hamanya adalah burung-burung kecil liar yang suka mengisap sari bunga kecombrang. Karena itu, pada siang atau sore hari, Bagus selalu menghalau burung-burung kecil yang hinggap di tanaman ini.
Jika proses perawatan berjalan baik dan benar, Bagus bisa panen bunga kecombrang dalam waktu dua minggu atau sebulan sekali. Bagus menjual bibit dan bunga kecombrang untuk kebutuhan kuliner.
Untuk tanaman hias, Bagus membanderol bibit kecombrang Rp 50.000 per pot. Sedangkan untuk bahan makanan, dibandrol Rp 50.000 per kilogram (kg).
Pembudidaya kecombrang lainnya adalah Yuke Rahmadana dari Padang, Sumatra Barat. Ia juga mengaku tak kesulitan membudidayakan kecombrang. Apalagi, pohon ini telah dibudidayakan turun temurun oleh orangtuanya.
Menurut Yuke, selain lahannya harus diberi pupuk, tanaman kecombrang cukup disiram satu kali sehari. Tanaman ini hanya butuh sinar matahari sepanjang hari. Hal ini agar bunga dan buah yang dihasilkan banyak. Perawatan tanaman harus rutin dilakukan hingga tanaman mencapai tinggi 40 cm–60 cm.
Tapi, ada hal khusus yang harus diperhatikan dalam budidaya kecombrang, yakni pembudidaya tidak perlu menggunakan banyak air untuk menghasilkan panen.
Selain itu, kebersihan sekeliling area pembudidayaan juga harus tetap dijaga. Jangan sampai banyak rumput liar dan binatang pengerat di sekeliling pohon. "Oleh karena itu, secara berkala area penanaman harus rajin dibersihkan," ungkap Yuke.      

(Selesai) 

sumber : kontan.co.id
Share: