Kecil bentuknya,jumbo laba budidaya ikan nilem (1)

Mendengar nama ikan nilem rasanya memang tidak seakrab ketika mendengar nama ikan mas. Padahal bentuk ikan ini hampir sama dengan ikan mas. Namun banyak orang pasti sudah sering melihat terapi ikan yang ditaruh di kolam-kolam. Ikan-ikan tersebut akan mengerubuti dan menggigit kaki pasien. Terapi ikan ini dipercaya bisa melancarkan aliran darah dan mengurangi stres pikiran.
Nah, ikan bernama latin Osteochilus hasselti inilah salah satunya. Biasanya ikan nilem untuk terapi tersebut masih yang berukuran kecil sekitar 2 inci. Ikan nilem balita dan dewasa juga sering dijadikan lauk. Cita rasa ikan ini lebih gurih dibandingkan jenis ikan air tawar lainnya. Itu sebabnya banyak pembudidaya yang tertarik membiakkan ikan ini.
Daerah-daerah di Indonesia yang paling banyak mengembangbiakkan jenis ikan ini di antaranya Purwakarta, Cianjur, Tasikmalaya, dan Sukabumi. Kawasan sejuk dengan sirkulasi air yang baik dari sungai-sungai menjadi tempat kembang biak yang baik bagi ikan ini.
Menurut pembudidaya ikan nilem dari Tasikmalaya, Hendra Alamsyah, ikan nilem memiliki biaya produksi rendah dan perawatan relatif mudah. Pembesaran ikan nilem pun tidak perlu waktu lama. Hendra membudidayakan ikan nilem di Desa Mekarjaya, Kecamatan Kubangeceng, Tasikmalaya, Jawa Barat. Dia dan petani ikan nilem lain di wilayah ini tergabung dalam kelompok pembudidaya Mekar Saluyu. Ada sekitar 40 unit pemijahan atau tempat pembenihan ikan nilem di kelompok ini.
Hendra memiliki tiga unit kolam pemijahan, masing-masing seluas 35 meter persegi (m2). Dia bilang, mulai dari pembenihan sampai siap panen membutuhkan waktu sekitar tiga bulan. Dalam setahun dia bisa panen sebanyak tiga kali. Selain membudidayakan ikan nilem hingga dewasa, Hendra juga menjual bibit ikan nilem. Sekali panen tiga unit kolam pemijahannya bisa menghasilkan 4 kuintal ikan nilem seukuran ibu jari orang dewasa.
Kelompok budidaya ikan nilem di desanya memasok hasil panenannya ke sejumlah restoran dan ke hotel-hotel di sekitar Bandung, Garut, Cilacap dan Bogor. Harga jual ikan nilem balita sekitar Rp 20.000-Rp 22.000 per kilogram (kg). Sementara harga larva per cangkir isi 10.000-12.000 larva dijual
Rp 10.000. Sekali panen Hendra bisa mengantongi omzet sebesar Rp 10 juta.  
Pembudidaya lainnya adalah Nur Fauzan dari Medan. Dia membudidayakan sekitar 2.000 ekor ikan terapi ini di kolam berukuran 10x10 meter yang disekat menjadi enam kolam kecil. Dia menjual nilem ukuran 2 sentimeter (cm) seharga Rp 2.000 per ekor. Dalam sebulan dia bisa mendapatkan omzet sekitar Rp 3,6 juta dengan laba Rp 3,3 juta per bulan.

(Bersambung)

sumber : kontan.co.id
Share: