Ikan Nila Salin Mampu Hidup Di Air Payau

Untuk menjawab tantangan perubahan iklim global dan degradasi lingkungan yang mempengaruhi produktivitas ikan, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) berhasil berinovasi menghasilkan ikan nila salin yang toleran terhadap salinitas atau tingkat keasinan air lebih dari 20 ppt (perairan payau).
Ikan nila (Oreochromis niloticus) merupakan ikan konsumsi paling populer dan layak dikembangkan sebagai sumber protein masyarakat. Namun lahan budidaya di perairan air tawar cenderung menyempit akibat desakan pemanfaatan lahan untuk industri dan pemukiman. Sementara itu sekitar 30-40 persen dari total 1,2 juta hektar lahan pertambakan dalam kondisi terlantar dan tidak dapat dimanfaatkan secara optimal.
Menjawab hal itu, Kepala BPPT Marzan Aziz Iskandar mengatakan BPPT berhasil melakukan inovasi teknologi terhadap tiga produk yakni ikan nila salin unggul, pakan suplemen protein rekombinan pertumbuhan dan vaksin DNA Streptococcus. Tiga produk tersebut saat ini memasuki proses sertifikasi sehingga nantinya dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Nila salin menjadi jalan keluar budidaya ikan yang bisa memanfaatkan perairan dengan salinitas tinggi. Karena kita ingin memanfaatkan tambak-tambak yang terlantar dengan keunggulan nila salin yang tahan terhadap salinitas air di atas 20 ppt sehingga dapat dibudidaya di dekat pantai karena intrusi air laut atau kondisi air seperti Jakarta dimana salinitas lebih dari normal,” katanya saat soft launching ikan nila salin, protein rekombian pertumbuhan dan vaksin DNA Streptococcus di Jakarta.
Hadir dalam soft launching nila salin adalah Deputi Kepala BPPT Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi Listyani Wijayanti. Menurut Listyani, rasa nila salin setelah dimasak jauh lebih lezat dibanding ikan nila air tawar atau bahkan mujair.
Perekayasa Biologi dan Budidaya Ikan BPPT Husni Amarullah menjelaskan bibit nila salin diperoleh dari seleksi nila sifat unggul melalui metode diallel crossing untuk mengetahui bibit yang tahan salinitas tinggi. Konsep desain nila salin tambah Husni dimulai tahun 2008, sedangkan diallel crossing dilakukan tahun 2009 dengan pengujian salinitas 10 ppt dan tahun 2010 salinitas 20 ppt.
“Keunggulan nila salin selain kuat menghadapi salinitas tinggi juga panen lebih cepat. Jika menebar bibit berukuran 5-10 cm bobot 250 gram dicapai dalam waktu 3-4 bulan atau jika ingin 600 gram bisa ditambah tiga bulan lagi. Sedangkan mujair dalam waktu 3-4 bulan hanya berbobot 100 gram saja,” ungkapnya.
Selain dibutuhkan bibit nila salin unggul, budidaya nila salin juga harus didukung penyiapan pakan suplemen protein rekombinan pertumbuhan untuk pemacuan pertumbuhan nila salin. Sedangkan untuk mencegah penyakit yang disebabkan bakteri Streptococcus nila salin diberi vaksin DNA Streprococcus supaya tahan terhadap serangan bakteri tersebut.
Husni menambahkan, ikan nila salin yang terkena penyakit dari bakteri Streptococcus ini berciri bintik-bintik di kulit ikan, mata keluar dan bengkak.
Terkait ketersediaan pakan suplemen protein rekombian, Direktur Pusat Teknologi Produksi Pertanian BPPT Nenie Yustiningsih menyatakan pakan tersebut merupakan suplemen yang ditambahkan ke dalam pakan ikan. Formula protein pakan pertumbuhan itu harus diproduksi oleh industri, barulah pembudidaya ikan mencampurkannya ke pakan ikan.
Dalam acara soft launching itu BPPT juga melakukan penandatanganan nota kerja sama (MoU) dengan Bupati Bantaeng, Sulawesi Selatan Nurdin Abdullah tentang penerapan teknologi produksi benih ikan nila unggul, dengan Ketua Koperasi Gerakan Pengembangan Perikanan Pantai Utara (Gapura) Perhimpunan Petani Tambak Pantura Karawang Endi Muchtaruddin tentang inovasi teknologi produksi ikan salin dalam rangka peningkatan produktivitas nila Salin.
Kerja sama juga dilakukan antara BPPT dengan Direktur PT Nuansa Ayu Karamba Martin tentang uji coba pemanfaatan pakan protein rekombinan hormon pertumbuhan (rGH) dan vaksin Steptococcus pada pembudidayaan ikan nila salin sistem karamba jaring apung di perairan laut.

sumber : budidaya-ikan.com
Share: