HIPMI: industri perikanan kawasan timur paling siap digarap


Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) menyatakan Kawasan Timur Indonesia sudah sangat siap untuk digarap pengembangan industri perikanan sehingga investasi juga bisa lebih menyebar ke seluruh Tanah Air.


"Kawasan timur merupakan wilayah yang paling siap digarap industri perikanannya," kata Ketua Bidang Kemaritiman BPP Hipmi Munafri Arifuddin dalam rilis yang diterima di Jakarta.



Menurut Munafri, kesiapan itu terindikasi antara lain dari wilayah lautnya yang luas, sumber daya ikan yang melimpah, serta lokasinya yang dekat dengan negara-negara importir ikan.



Untuk itu, ujar dia, Hipmi siap menjadi penghubung antara investor dan pengusaha lokal.



"Sinergitas dengan pengusaha lokal ini penting, sehingga investor dapat melakukan efisiensi dan melakukan pengembangan usaha lebih leluasa," katanya.



Berdasarkan data Hipmi Research Center, meski potensi perikanan dan kelautan Indonesia sangat besar, namun kontribusi sektor kelautan dan perikanan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional masih kecil, hanya sekitar tiga persen. 



Pada kuartal I 2016, PDB perikanan nasional sebesar Rp77,3 triliun, naik sebesar Rp9,2 triliun atau 13,5 persen. Meski naik, peran dengan PDB keseluruhan, masih kurang dari 3 persen.



Dari sisi pembiayaan, Otoritas Jasa Keuangan OJK menargetkan total penyaluran kredit Kelautan Kemaritiman dan Perikanan melalui program Jaring (Jangkau, Sinergi dan Guidelines) sebesar Rp9,2 triliun di tahun 2016.



Realisasi kredit Jaring sampai dengan Desember 2015 mencapai Rp6,69 triliun atau 124,5 persen dari target Rp5,37 triliun.



Di tempat terpisah, lembaga riset dan konsultan bisnis internasional Iphos Consulting menyarankan peminat investasi di sektor kelautan dan perikanan berfokus ke udang sebab komoditas tertsebut paling potensial.



"Dengan kombinasi nilai ekspor tertinggi dan tingkat pertumbuhan tercepat di antara komoditas utama, akuakultur udang bisa terbukti menarik bagi perusahaan yang ingin meningkatkan pertumbuhannya," kata Senior Consulting Manager Iphos Indonesia, Domy Halim.



Menurut dia, salah satu komoditas utama di Indonesia adalah udang, dan jenis vanname adalah spesies yang paling banyak dibudidayakan.



Diperkirakan udang menyumbang sekitar 1,5 miliar dolar AS dalam nilai ekspor dibandingkan dengan komoditas ikan, dan rumput laut dalam nilai ekspor yaitu masing-masing secara berturut-turut adalah 1 miliar dolar AS dan 0,2 miliar dolar AS.



Nilai ekspor udang, lanjutnya, juga disebutkan tumbuh tercepat secara keseluruhan yaitu dengan rata-rata pertumbuhan per tahun mencapai 15,4 persen pada periode 2011-2014.



Sedangkan pada periode yang sama, komoditas ikan dan rumput laut masing-masing tumbuh sebesar 1,4 persen dan 12,8 persen.


sumber : antaranews.com
Share: