Hasil budidaya biriba seberat bobotnya (1)

Buah srikaya cukup akrab bagi masyarakat Indonesia. Buah ini banyak dimanfaatkan untuk bahan aneka olahan makanan, seperti selai, dodol, puding, hingga sirup. Tanaman ini juga kaya serat dan zat gizi.

Nah, selain srikaya yang biasa dijumpai di pasar, kini mulai banyak yang membudidayakan srikaya raksasa atau biasa disebut srikaya biriba. Srikaya ini ketika masih muda berwarna hijau, dan  berubah menjadi kekuningan ketika buah sudah masak.

Tanaman ini berasal dari kawasan tropis Amerika Selatan, yakni Brasil, Meksiko, dan Argentina. Tanaman bernama latin Rollinia mucosa ini mulai populer di Tanah Air sejak beberapa tahun silam.

Salah satu pembudidaya biriba adalah Susilo Suhasto di Tulungagung, Jawa Timur. Pemilik CV Karya Suhasto Mandiri ini mulai membudidayakan biriba, tahun 2008. "Biriba ini buahnya unik, beratnya bisa mencapai 2 kg, padahal srikaya jumbo asal Australia saja hanya sekitar 0,8 kg per buah," ujarnya.

Selain itu, tanaman ini rajin berbuah. Menurutnya, jika perawatan tepat, dalam setahun biriba bisa dipanen dua hingga tiga kali. Pria yang akrab disapa Suhasto ini bilang, selain ditanam untuk diambil buahnya, para kolektor tanaman juga menyukai biriba, karena buahnya antik dan besar.

Pembudidaya biriba di Semarang, Budi Prayogo mulai menanam tanaman ini sejak tiga tahun silam. Ia tertarik budidaya tanaman ini, karena bentuknya unik, dan komersial mengingat ukuran buahnya sangat besar. "Kalau optimal perawatannya, bobotnya rata-rata bisa 1,5 kg," kata pemilik Citra Agro ini.

Namun, ia mengaku, di Indonesia, tanaman ini masih terbilang baru dan belum sepopuler  srikaya biasa. Lantaran terhitung tanaman baru, belum banyak yang menanam skala kebun, kebanyakan untuk koleksi.

Meski begitu, Budi optimistis terhadap potensi srikaya biriba ke depan. Menurutnya, tanaman ini berpeluang bagus dibudidayakan, karena bisa menghasilkan buah yang lebih bagus dibanding jenis srikaya biasa. Harga buahnya pun diklaim lebih mahal ketimbang srikaya biasa.

Budi menjual bibit biriba ukuran di bawah 60 centimeter (cm) seharga Rp 60.000 per bibit. Sementara, bibit dengan ketinggian 75 cm dibanderol Rp 90.000. Ia mengaku, baru bisa menjual 200 bibit per tahun, atau setara Rp 19 juta.

Sementara, Suhasto menjual bibit biriba setinggi 30 cm berusia empat bulan seharga Rp 50.0000. Adapun, bibit yang sudah berusia setahun dengan tinggi 1,5 meter dihargai Rp 300.000.

Dalam sebulan, Suhasto mampu menjual 50-150 bibit. Jika dihitung, omzetnya bisa mencapai Rp 25 juta sebulan. Pembelinya tersebar di wilayah Jawa Timur, Jawa Barat, dan Jawa Tengah. 

(Bersambung)

sumber : kontan.co.id
Share: