Harga Pakan Ikan Meroket, Petani Ikan Kewalahan

Kendati telah disiasati dengan pakan lainnya, namun petani ikan di Kecamatan Bojongsari mulai kewalahan menghadapi kenaikan harga pakan ikan yang terus meroket. Naiknya harga pakan ikan sudah berlangsung hampir tiga bulan lamanya.
“Jujur saja, kita terpukul dengan kenaikan harga pakan ikan ini. Memang kalau selama ini bisa disiasati dengan pakan lainnya. Tapi, hasilnya kan tidak sesuai harapan,” keluh Muhtar (32), petani ikan, kepada wartawan dilokasi.
Diutarakannya, untuk pakan ikan merk poktan harganya mencapai Rp220 ribu per 30 kilo gram (kg).
Menurutnya, pakan ikan atau pelet digunakan untuk memberi makan ikan jenis lele, patin, dan gurame. Sayangnya semua jenis pelet mengalami kenaikan. Dari mulai pakan bermerk sampai yang tak memiliki nama. Dan uniknya, ikan peliharaannya tidak mau memakan jika diberi pelet tanpa merek.
“Kenaikan ini secara otomatis berdampak pada pendapatan kita. Hitung-hitungannya, untuk kolam kecil saja buat lele, biasanya dengan modal Rp 2 juta bisa dapat Rp 3 juta. Tapi, sekarang ya agak susah. Karena pengeluaran juga banyak,” tutur Muhtar.
Muhtar menegaskan, untuk menyiasati mahalnya pakan ikan, tak jarang ia menggunakan bangkai ayam untuk makanan ikan. Kebetulan ia juga memelihara ayam. Pelet merupakan asupan makanan atau penambah gizi bagi ikan. Untuk itu, pelet harus diberikan pada ikan agar menambah bobot dan bernilai ekonomis tinggi.
“Kalau naik seperti ini, mau tidak mau ya harus beli karena kebutuhan. Bahkan, katanya mau ada kenaikan lagi. Kita inginnya harga pelet turun, cuma tidak tahu bagaimana caranya,” tandas Muhtar.
Pernyataan Muhtar diamini oleh pengelola kolam ikan telaga biru, Sawangan, Mansyur al-Farisi (35). Menurutnya, dengan kenaikan harga tersebut cukup memberkan pengaruh pada penghasilannya. Sedangkan, kebutuhan yang harus dikeluarkan juga banyak.
Ia mengungkapkan, untuk ikan lele dalam setiap 40 hari bisa dilakukan pemanenan atau delapan kali dalam setahun. Sedangkan, untuk ikan jenis gurame bisa dipanen dalam waktu delapan atau satu tahun tergantung bibit.
“Pakan ikan itu harus kita beli dengan resiko seperti itu. Kita juga sudah siasati dengan pakan. Cuma, untuk menghadapi kenaikan ini kita banting stir fokus pada satu jenis saja,” tutur Mansyur.
Mansyur mengaskan, padahal sebelumnya beragam jenis ikan dipeliharanya. Namun, karena melihat kenaikan harga pakan yang cukup signifikan akhirnya memutuskan hanya satu jenis ikan gurame saja. Meski dari masa pemeliharaannya cukup lama, namun ikan gurame bernilai cukup ekonomis.
“Kita pilih pelihara ikan gurame saja yang resikonya agak kecil dan bisa diberiikan makanan tambahan daun sente. Tapi, kita juga tetap ada perhatian dari pemerintah,” tandasnya.

sumber : budidaya-ikan.com
Share: