Genjot produksi udang lewat keramba jaring apung

Lewat keramba jaring apung, nelayan di Paibung, Lampung mengembangkan udang. Ini adalah mata pencarian baru setelah budidaya kerapu   g harus gulung tikar lantaran pasar ekspornya jatuh. Harapan baru tersungut dari budidaya udang untuk pasar ekspor. 
Para nelayan di Desa Paibung, Kecamatan Padang Cermin, Kabupaten Pesawaran, Lampung bisa kembali bernafas lega. Setelah usaha budidaya kerapu gulung tikar menyusul pasar ekspor yang kolaps akhir 2012, mereka akhirnya menemukan mata pencaharian baru yakni budidaya udang di keramba jaring apung (KJA).
Kepala Balai Besar Perikanan Budidaya Laut (BBPBL) Lampung Tatie Sri Paryanti menuturkan, di Desa Paibung terdapat 12 nelayan, masing-masing memiliki sepuluh jaring KJA. Nelayan pertama kali melakukan penebaran benih udang di KJA pada Juni 2015.
Pada panen perdana, KJA Desa Paibung mampu menghasilkan 360 kilogram (kg) udang ukuran 66 ekor per kg yang dijual seharga Rp 65.000 per kg. "Kami cukup surprised atas hasil panen perdana ini karena hasilnya cukup bagus," ujar Tatie di sela-sela panen.
Menurut Tatie, dengan masa budidaya yang lebih singkat, budidaya udang lebih menguntungkan ketimbang kerapu. Udang sudah bisa dipanen tiga bulan setelah penebaran benih. Bandingkan dengan kerapu yang butuh waktu hingga satu setengah tahun.
Apalagi modal untuk membuat KJA pun tidak besar. Tatie menghitung, nelayan bisa mengantongi pendapatan hingga Rp 3 juta per bulan.
Melihat potensi laut yang masih luas, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) ingin mengembangkan peluang budidaya udang di KJA demi menggenjot produksi udang tahun ini yang ditargetkan mencapai 827.100 ton. Pasalnya, hasil panen KJA bisa dua kali lipat tambak.
Dari jaring berukuran 3x3 meter persegi (m2) dapat dihasilkan 30 kg udang berukuran 66 ekor per kg. Sintasan hidup selama budidaya juga cukup tinggi yaitu 80%-85%.
Direktur Produksi Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya KKP Coco Kokarkin Soetrisno bilang, selain untuk menggenjot produksi, KJA juga merupakan upaya diversifikasi komoditas. "Di samping udang, nelayan bisa membudidayakan kerapu, bawal bintang, dan kakap putih di jaring yang sama. Tergantung mana yang pasarnya sedang bagus," terangnya.
KKP pun berharap ada perusahaan swasta yang mau menanam investasi untuk membangun KJA bekerja sama dengan masyarakat.
Coco melanjutkan, KKP ingin membangun KJA budidaya udang di Pulau Seribu Jakarta Utara. "Potensinya besar karena dekat dari mana-mana tapi jauh dari tambak," ujarnya.
Potensi budidaya udang memang tidak main-main. Coco bilang, udang menjadi andalan ekspor produk perikanan Indonesia. Apalagi udang Indonesia paling diterima di Amerika Serikat (AS) karena kualitasnya sudah terbukti. Hal itu turut mempengaruhi pasar ekspor ke Jepang dan Eropa.
Namun dari kebutuhan udang dunia sebanyak 400.000 ton per tahun-700.000 ton per tahun, Indonesia baru mampu memasok 250.000 ton per tahun-300.000 ton per tahun.
Menurut catatan Asosiasi Pengusaha Pengelolaan dan Pemasaran Produk Perikanan (AP5I), realisasi ekspor udang selama paruh pertama tahun ini mencapai 96.748 ton, lebih tinggi 8,03% dari periode yang sama tahun lalu.
Namun, di sisi lain, nilai ekspor udang justru merosot 13,98% menjadi US$ 851,18 juta. Udang mewakili 42% dari nilai ekspor produk perikanan Indonesia semester I-2015 yang mencapai US$ 2,01 miliar.
Menurut Ketua Umum AP5I Thomas Darmawan, harga merosot karena pembeli menekan harga dengan alasan depresiasi dolar AS. Selain itu, Eropa dan Jepang yang notabene merupakan pasar ekspor udang Indonesia sedang mengalami resesi.
Sebagai catatan, sepanjang tahun lalu Indonesia mengekspor 191,14 juta kg udang senilai US$ 2,09 miliar atau hampir separuh dari nilai ekspor produk perikanan Indonesia yaitu US$ 4,64 miliar. 

sumber : kontan.co.id
Share: