Deny Rusmawan : Bisnis Ikan Nila Nggak Ada Matinya !

Nila di sini bukanlah racun yang merusak susu dalam belanga seperti dalam pepatah. Namun nila di sini adalah ikan air tawar (Orechromis niloticus) yang diintroduksi dari Afrika sekitar empat dekade silam.
Di kancah internasional, komoditas bernama dagang Tilapia ini laku keras di Eropa dan Amerika Serikat. FAO mencatat, tahun lalu, impor Uni Eropa mencapai 20.700 ton, sedangkan Amerika menyerap 192.900 ton senilai US$838 juta. Memang angka impor AS ini turun 10% ketimbang data tahun sebelumnya.
Biang keladinya adalah kalah bersaing dengan ikan patin yang lebih murah. Semester pertama 2012 negara Obama itu sudah mendatangkan 80 ribu ton fillet beku.
Meski di AS ada penurunan, secara global permintaan terhadap ikan ini meningkat di pasar domestik di kawasan Asia, Afrika, dan Amerika Latin. China sebagai produsen terbesar dunia mulai mengalihkan sebagian produknya ke Afrika.
Pasokannya ke Amerika lebih sedikit. Di Eropa, impor naik 1% dari tahun sebelumnya, masuk lebih banyak dari Asia, yaitu Vietnam, Taiwan, dan Indonesia. Tilapia Indonesia ini tidak hanya terbang ke Eropa tapi juga ke AS.
Di pasar internasional, dalam situasi krisis, bisa berfungsi sebagai alternatif yang lebih ramah di kantong konsumen ketimbang udang. Sementara di pasar domestik Indonesia, pamornya kian moncer. Terbukti dari maraknya resto penyaji menu nila .
Salah satu pengusaha yang sukses menggeluti bisnis Ikan Nila adalah Deny Rusmawan. Dengan membawa bendera CV Dejeefish, Deny menggarap sektor pembenihan ikan nila.
EDerasnya permintaan benih nila ke seantero negeri ini, bisa dibilang “nggak ada matinya.” Ini bukanlah pernyataan birokrat pemerintah yang, maaf, kadang tidak sesuai fakta lapangan, tetapi pengalaman sejati Deny Rusmawan, pembenih ikan di Cibaraja, Cisaat, Sukabumi.
Pria muda yang membangun pemasaran dengan cara lebih modern memanfaatkan latar belakang ilmu informatikanya. Lewat luasnya jejaring internet, pelanggannya menyebar dari ujung barat Indonesia, Aceh hingga ke Papua, bahkan merambah mancanegara, yaitu Malaysia. Negeri ini jiran cukup serius mengirim puluhan orang untuk mengikuti pelatihan di tempat Deny.
Uniknya, Deny tidak kuatir bisnisnya tersaingi. Malah menurut pengalamannya, makin banyak yang ikut menimba ilmu kepadanya, makin banyak pula permintaan yang masuk. Pasarnya pun kian meluas.
“Soalnya, 80% pasar benih adalah di antara sesama pembenih,” begitu alasan pelaku bisnis yang menggandeng mitra sekitar 20 orang pembenih.
Produksi benih nila dibagi paling tidak empat tahap sampai siap tebar. Masing-masing pembenih biasanya menggarap segmen tertentu jadi selesai satu fase dilempar ke pembenih yang menggarap fase selanjutnya. Begitu seterusnya sampai ke pembudidaya pembesasaran.
Deny saat ini sudah cukup mapan. Memang akhirnya dia tak hanya menyediakan nila tetapi juga benih ikan lain. Ada tips yang bikin harga benih tetap stabil. Kala produksi agak membanjir, dia dan kawan-kawannya mencemplungkan sebagian produksi benih nilanya ke penggorengan.
Tidak sembarang menggoreng terus dikemas tapi lebih dulu diisap kandungan minyaknya sehingga lebih renyah dan tahan enam bulan. Sedangkan ukuran benih yang lebih besar diolahnya menjadi dendeng layaknya daging sapi.
Pemasaran kedua produk olahan itu, lagi-lagi mendompleng bisnis yang sudah ada. Bahkan ini menjadi sarana bagi karyawannya untuk mendapatkan perolehan lebih. Sebuah solusi yang cukup kreatif.
Cerita menyenangkan tentang pelaku bisnis pembenih nila tentu tak dia seorang. Pelaku di Lampung Timur, Wonosobo, Pasuruan juga menambah keyakinan bisnis ini layak dipilih. Untuk memulainya tentu bisa belajar dulu dari para pendahulu setelah terlebih dulu membidik calon pasar.
Untuk memproduksi benih, induk jelas jadi modal utama di samping kolam. Instansi di bawah Kementerian dan Kelautan cukup gencar merilis strain-strain unggul ke masyarakat. Dalam dekade terakhir ini paling tidak ada sembilan strain unggulan, di antaranya GIFT, Srikandi, Gesit, Nirwana, BEST, Larasati, terakhir Sultana bisa menjadi pilihan bagi para pembenih.
Hadirnya induk unggul yang lebih cepat pertumbuhannya itu akan mempersingkat waktu pembesarannya di kolam maupun jaring apung. Dengan demikian rekayasa induk menjadi solusi bagi para eksportir nila yang kesulitan memperoleh bahan baku nila ukuran besar. Memang selama ini peluang ekspor fillet nila terkendala oleh keengganan petani ikan untuk membesarkan nila sampai ukuran 800 gram ke atas karena cukup lama.
Sultana misalnya yang harus dikawinkan dengan Nirwana akan menghasilkan 98% anakan jantan yang tumbuh 25% lebih cepat ketimbang generasi sebelumnya. Makin cepat produksi, makin banyak produksi nila konsumsi. Diharapkan produksi Indonesia pun meningkat.
Dampak positifnya di dalam negeri konsumsi per kapita ikan ikut terkerek naik. Sedangkan untuk pasar internasional, kontribusi kita akan meningkat. Posisi kita di Amerika memang nomor dua setelah China tetapi dengan volume jauh lebih kecil. Dengan nila-nila baru, kita garap konsumen lokal maupun internasional. Baik di pasar yang sudah mapan maupun yang potensial diserbu.

sumber : budidaya-ikan.com
Share: