Cerita lele, ikan gabus, dan jawara asal Bekasi


Pemerintah Kota Bekasi, Jawa Barat, mengarahkan warganya untuk membudidayakan ikan konsumsi jenis lele dan mujair. Menurut Pemkot Bekasi, kedua jenis ikan itu cocok dengan iklim perkotaan. Selain cocok iklim untuk pembudidayaan, dua jenis ikan tersebut cukup potensial untuk dikembangbiakkan di Bekasi.

"Selama ini Kota Bekasi identik dengan budidaya ikan hias, padahal ikan konsumsi pun tidak kalah konsumennya," kata Kepala Seksi Bina Peternakan dan Perikanan (Dispera) Wadi Rimal.

Menurut Wadi, lele dan mujair merupakan salah satu jenis ikan konsumsi yang potensial dikembangbiakkan di wilayah perkotaan. "Karena kedua jenis ikan itu didukung iklim yang cocok serta permintaan ikan konsumsi di Jabodetabek yang sangat tinggi," kata Wadi.

Untuk itu, Dinas Perekonomian Rakyat (Dispera) Kota Bekasi berinisiatif memberikan penyuluhan tentang bagaimana membudidayakan ikan konsumsi kepada masyarakat di 12 kecamatan Kota Bekasi. Dikatakan Wadi, penyuluhan yang dilakukan pihaknya kepada perwakilan warga di setiap kecamatan berupa cara memberi makan yang baik, mengganti air, hingga proses pembibitan.

"Para peternak ikan walaupun sudah mengerti cara membudidayakannya, tetapi masih banyak peternak yang melupakan hal-hal penting dalam perawatan ikan. Khususnya dalam pembuahan, oleh karena itu dalam hal ini kami terangkan dengan detail," kata Wadi.

Bicara soal lele, Kota Bekasi ternyata punya pengalaman buruk dengan ikan berkumis itu. Cerita bermula di tahun 1995. Saat itu Bekasi masih kabupaten dan belum lahir Kota Bekasi (Kota Bekasi mekar tahun 1996).

Saat itu Bupati Bekasi Moch Djamhari membangun landmark berupa patung ikan lele dan kecapi. Patung lele dan kecapi tersebut berada di Jalan Juanda Bekasi.

Patung lele keberadaannya jadi penunjuk jalan yang favorit karena berada di tengah jalan dan patungnya cukup besar. Lokasi patung yang strategis dekat stasiun kereta api, masjid terbesar di Bekasi, Rumah Sakit Umum Daerah juga Polres Bekasi membuatnya sangat terkenal. Sebagai ancer-ancer atau janjian, orang dahulu menggunakan tugu atau patung lele.

Patung atau Tugu Lele sebenarnya berbentuk ikan lele dan buah Kecapi, tetapi orang lebih familiar dengan sebutan patung atau tugu lele. Sedangkan kecapinya jarang disebut.

Namun patung besar lele dan kecapi itu ternyata ditolak oleh sebagian warga Bekasi kala itu. Warga yang menolak menganggap, patung lele justru merendahkan martabat Bekasi.

Mereka yang menolak menyebut lele adalah ikan yang rakus, tamak, pemakan segalanya dan jorok. Selain itu lele harga jualnya juga murah. Saat itu memang lele banyak di Bekasi karena daerah tersebut dialiri banyak sungai.

Sedangkan buah kecapi meskipun dulu banyak dijumpai di Bekasi, namun harganya murah dan rasanya tidak begitu enak.

Atas dasar itulah Badan Kekeluargaan Masyarakat Bekasi (BKMB) merasa Patung Lele dan Kecapi tidak mencerminkan masyarakat Bekasi. Warga sempat mengusulkan agar patung lele diganti ikan gabus. Ikan gabus saat itu juga banyak di kali Bekasi. Secara filosofi, gabus dinilai lebih baik daripada lele.

Protes pun dilayangkan oleh Pengurus BKMB kepada Bupati Moch Djamhari, Bupati Bekasi, tetapi tidak ditanggapi.

Saat pemekaran wilayah dan Bekasi Kota terbentuk, BKMB lalu menyurati Nonon Sonthani, Wali kota Bekasi pertama. Penolakan warga ini pun mendapat respon dari Wali Kota mengeluarkan surat agar Patung Lele dibongkar.

Meski demikian patung lele itu tetap tegak berdiri mematil yang menolaknya. Lama kelamaan warga semakin kesal karena patung lele itu tetap berdiri di jantung Kota Bekasi.

Salah seorang pengurus BKBM bernama Damin Sada dan saat itu masih berstatus sebagai Kepala Desa Sri Jaya, kecamatan Tambun akhirnya bertindak sendiri. Bersama warga Bekasi lainnya yang sudah kesal, Damin dan kerabatnya bernama Namin serta ratusan warga lainnya mendatangi patung lele itu.

Damin dan warga lalu menghancurkan patung lele kecapi itu. Tak hanya itu, warga yang kesal juga membakar patung itu. Kejadian tersebut terjadi pada Kamis tanggal 24 April 2002.

Damin Sada sendiri dikenal sebagai salah satu jawara di Bekasi. Akibat ulahnya, Damin Sada dan Namin sempat ditangkap polisi dengan tuduhan merusak. Meski demikian, nama Damin Sada dan Namin justru semakin melejit sebagai jawara Bekasi.

Kini patung lele sudah tidak bisa ditemukan dan berganti tugu jam besar. Lele sebagai ikon Kota atau Kabupaten Bekasi pun ditolak warga. Lalu apa lambang kota Bekasi saat ini?


sumber : merdeka.com
Share: