Berkembang seiring tren yang bergulir (2)

Layaknya pakaian dan properti, ikan hias pun memiliki tren dari masa ke masa. Meskipun memang, tidak ada yang bisa memastikan kurun waktu bertahannya tren satu jenis ikan hias.

Perkembangan tren di masyarakat itu pula yang memacu terus bertambahnya jenis ikan hias yang diperdagangkan di kios-kios Jalan Talaud, Medan. Maklum, sentra yang sudah berdiri sejak tahun 1990-an ini menjadi tujuan utama para pemburu ikan hias di sekitar Medan. Nah, demi memenuhi permintaan para pelanggan, pemilik kios berusaha menyediakan ikan hias selengkap mungkin.

Salah seorang pedagang ikan hias, Sri Hartati bercerita, hampir setiap tahun terjadi pergantian tren ikan hias. Menurutnya, pada awal berdiri, para pedagang ikan hias di Jalan Talaud hanya menjual ikan cupang.

Kemudian, seiring dengan perjalanan waktu, permintaan pelanggan semakin beragam. "Saat ini, yang lagi digemari jenis mas koki. Tapi, ada banyak jenisnya," tutur perempuan yang sudah berjualan lebih dari 15 tahun silam ini.

Di kiosnya, Sri menjual beragam jenis koki, seperti koki oranda, mata balon, balasak, dan menvis. Menurutnya, Ikan -ikan ini mulai tren sejak akhir tahun lalu.

Pengelola kios ikan hias lainnya, Yuni mengamininya. Ia bilang, hampir setiap hari ada pengunjung yang membeli ikan koki. "Padahal tahun lalu yang terkenal itu ikan hantu atau black ghost, tapi tahun ini sudah ganti jadi ikan koki," ujarnya.

Awal popularitas ikan koki terjadi sejak tahun 2000-an. Namun, tren memelihara ikan koki kembali lagi pada tahun ini di kalangan pencinta ikan hias di Medan.

Selain ikan koki, jenis lain yang mendominasi penjualan di kios Yuni, ialah ikan tiger, rainbow, dan lemon. "Sebenarnya arwana juga sering dicari, tapi stoknya sangat jarang," imbuhnya.

Nah, untuk memenuhi stok ikan, para pedagang membeli  langsung dari peternak di sekitar kota Medan. Yuni bilang, ia memasok dari peternak di Lubuk Pakam dan Perbaungan. Pengiriman pasokan tergantung kebutuhan. Jika kios ramai pembeli, ia bisa memasok ikan hias sebanyak tiga kali dalam seminggu. Namun, kalau sedang sepi peminat, ia hanya membeli pasokan ikan hias sekali dalam seminggu.

Senada, Sri membeli pasokan ikan hias dari peternak di Lubuk Pakam, Perbaungan, dan Brastagi. Ia juga sering membeli ikan hias dari penangkar dengan hitungan per kolam. "Misalnya ditaksir ada 1.000 ekor koki dalam satu kolam, lalu dikali harga Rp 2.000 per ekor," ungkapnya.

Selain menjual aneka ikan hias, pemilik kios lainnya, Freddy Simarmata melengkapi dagangannya dengan pakan ikan, seperti pelet. Bahkan, ia dan beberapa pedagang lain juga jualan akuarium. Harganya dibanderol Rp 150.000 hingga Rp 300.000 per unit, tergantung ukuran. Akuarium itu dibeli dari perajin akuarium di sekitar Jalan Talaud.

Adapun, berbagai aksesori dan sparepart akuarium didapat dari pedagang ikan hias di mal. "Saya menjalin kerjasama dengan mereka. Saya ambil sparepart dari sana, lalu dibarter dengan ikan hias dari kios saya," ucap Freddy. 

(Bersambung)

sumber : kontan.co.id
Share: